Close Menu
Info Malang Raya
    Berita *Terbaru*

    Aturan Baru SD hingga Pengantin Kabur, Viral Terpopuler

    25 Mei 2026

    Jumat, Hari Paling Mulia dalam Islam: Mengapa Disebut Raja Hari?

    25 Mei 2026

    Mengapa Beberapa Orang Berlari Cepat, Sedangkan Lainnya Tidak?

    25 Mei 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube Threads
    Senin, 25 Mei 2026
    Trending
    • Aturan Baru SD hingga Pengantin Kabur, Viral Terpopuler
    • Jumat, Hari Paling Mulia dalam Islam: Mengapa Disebut Raja Hari?
    • Mengapa Beberapa Orang Berlari Cepat, Sedangkan Lainnya Tidak?
    • Menjelang Idul Adha, Harga Sayuran Sumbar Melonjak di Bengkalis
    • Mega Wisata Umrah Juli-Desember 2026: Aman, Nyaman, dan Pasti 5 Kali
    • 4 Bintang Film Colony Pemenang Baeksang, Akting Mencengangkan!
    • Putin dan Xi: Kekuatan Bersama Menghadapi AS dan Ukraina
    • Ketika Pengajian Berhadapan dengan Dunia Digital
    • MPV atau SUV untuk Mobil Keluarga? Ini Alasannya
    • Setelah Presiden Prabowo ke Miangas, Wapres Gibran Jelajahi Rote
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    Info Malang RayaInfo Malang Raya
    Login
    • Malang Raya
      • Kota Malang
      • Kabupaten Malang
      • Kota Batu
    • Daerah
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Hukum
      • Politik
      • Undang-Undang
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
      • Otomotif
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Teknologi
      • Tips
      • Wisata
    • Kajian Islam
    • Login
    Info Malang Raya
    • Malang Raya
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Kajian Islam
    • Login
    Home»Teknologi»Ketika Pengajian Berhadapan dengan Dunia Digital

    Ketika Pengajian Berhadapan dengan Dunia Digital

    adm_imradm_imr25 Mei 20261 Views
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Perubahan Kebiasaan Anak-Anak dan Remaja Aceh

    Di tengah perkembangan teknologi yang pesat, kebiasaan anak-anak dan remaja di Aceh mulai mengalami perubahan signifikan. Kehadiran smartphone membuat waktu yang dulu dihabiskan di meunasah, balai pengajian, atau rumah teungku perlahan tergeser oleh media sosial, game, dan hiburan digital.

    Aktivitas pengajian yang dahulu ramai setiap sore hingga malam hari kini tidak lagi seramai sebelumnya, terutama di wilayah perkotaan. Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan pola kehidupan generasi muda. Jika dulu anak-anak selepas magrib berbondong-bondong pergi mengaji, sekarang sebagian besar lebih memilih menghabiskan waktu dengan gadget mereka.

    Perubahan tersebut bukan hanya dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, tetapi juga oleh berkurangnya kebiasaan dan dorongan untuk menghadiri pengajian secara rutin. Berdasarkan hasil wawancara dengan Tgk. H. Fakhruddin Lahmuddin, M.Pd selaku akademisi Fakultas Dakwah dan Komunikasi sekaligus pimpinan umum Pesantren Modern Al-Manar, menurunnya minat remaja mengikuti pengajian dipengaruhi oleh perubahan pola kehidupan masyarakat dan perkembangan teknologi digital.

    “Dulu anak-anak lebih dekat dengan lingkungan pengajian karena aktivitas hiburan masih sangat terbatas dan hampir setiap kampung memiliki balee beut yang aktif pada sore hingga malam hari. Namun sekarang semuanya bisa diakses dari HP,” ujarnya.

    Menurutnya, dahulu hampir setiap kampung memiliki balai pengajian yang aktif pada sore dan malam hari. Anak-anak hadir secara rutin tanpa harus dipaksa. Namun sekarang, perhatian remaja lebih banyak tersita pada dunia digital. Gadget sebenarnya bukan musuh utama. Namun, perubahan ini juga tidak terlepas dari berkurangnya peran orang tua dalam mengarahkan kebiasaan anak di rumah. Jika dahulu orang tua aktif menyuruh dan mengantar anak ke balai pengajian, kini sebagian mulai memberikan kebebasan penggunaan gadget tanpa pengawasan yang cukup.

    Akibatnya, remaja lebih banyak menghabiskan waktu di dunia digital dibandingkan menghadiri pengajian atau halaqah di masjid.

    Pergeseran Balee Beut ke TPA

    Seiring perkembangan waktu, fungsi balee beut atau balai pengajian mulai bergeser ke TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) yang biasanya hanya berlangsung dari sore hari hingga menjelang magrib. Banyak masyarakat menganggap pendidikan agama dasar sudah cukup sampai tahap tersebut, terutama pada kemampuan membaca Al-Qur’an.

    Fakhruddin menjelaskan bahwa anak-anak yang telah tamat TPA tetap membutuhkan pengajian lanjutan agar memiliki pemahaman agama yang lebih luas, termasuk tentang akhlak dan nilai kehidupan. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa pengajian sore masih didominasi anak-anak usia sekolah dasar. Ketika memasuki usia SMP dan SMA, banyak remaja mulai meninggalkan lingkungan pengajian karena merasa sudah tidak cocok lagi belajar bersama anak-anak yang usianya di bawah mereka.

    Kondisi ini menjadi tanda bahwa ruang pengajian remaja mulai hilang di tengah masyarakat. Padahal, pengajian malam di masjid, mushalla, atau balee beut menjadi tempat penting untuk membentuk karakter dan kedisiplinan generasi muda Aceh.

    Pragmatisme Akademik dan Pendidikan Agama

    Melihat kondisi saat ini, banyak orang tua lebih memprioritaskan pencapaian akademik anak demi prospek kerja dibandingkan pendidikan agama. Padahal, dalam Islam ilmu dasar ibadah merupakan kewajiban fardhu ‘ain yang tidak boleh diabaikan.

    Fakhruddin menilai sebagian orang tua kini lebih memprioritaskan pendidikan akademik karena dianggap memiliki peluang kerja yang lebih besar. Namun, menurutnya, hal tersebut tidak menjadi masalah selama pendidikan agama dasar atau ilmu fardhu ‘ain tetap diberikan kepada anak. Pola pikir seperti ini perlahan membuat pendidikan agama kehilangan prioritas. Anak dituntut unggul dalam pelajaran sekolah, tetapi minim pembinaan akhlak dan pemahaman agama. Akibatnya, remaja menjadi lebih mudah terpengaruh oleh budaya digital tanpa filter nilai yang kuat.

    Balai Pengajian Juga Harus Beradaptasi

    Di sisi lain, balai pengajian juga perlu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Sebagian remaja merasa metode pembelajaran yang digunakan masih monoton dan kurang menarik.

    “Ada anak datang mengaji tetapi tidak paham karena cara mengajarnya kurang menarik,” kata Fakhruddin. Menurutnya, pengajian tidak cukup hanya mempertahankan cara lama, tetapi juga perlu menghadirkan metode belajar yang lebih menarik, kreatif, dan relevan dengan kehidupan generasi muda saat ini. Dengan begitu, balai pengajian tidak hanya dipandang sebagai tempat belajar agama, tetapi juga menjadi ruang yang nyaman bagi generasi muda untuk berkembang dan berinteraksi.

    Menjaga Masa Depan Generasi Aceh

    Aceh dikenal sebagai daerah dengan identitas Islam yang kuat. Karena itu, menjaga keberadaan balai pengajian bukan hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga menjaga jati diri masyarakat Aceh. Menjaga minat remaja terhadap pengajian bukan hanya tanggung jawab teungku atau lembaga agama saja, tetapi juga keluarga dan masyarakat. Orang tua memiliki peran penting dalam menjaga kedekatan anak dengan lingkungan pengajian. Bukan hanya membatasi penggunaan gadget, tetapi juga memberikan dorongan agar anak tetap dekat dengan pendidikan agama di tengah derasnya arus digital.

    Karena itu, pendidikan akademik dan agama harus berjalan seimbang agar generasi muda Aceh tidak hanya unggul secara ilmu, tetapi juga kuat dalam nilai dan moral.


    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Berita Terkait

    Rakernis Lalu Lintas 2026 di Auditorium Mutiara PTIK

    By adm_imr25 Mei 20261 Views

    Survei Deloitte: Gen Z & Milenial Indonesia Ungguli Rata-rata Global dengan AI

    By adm_imr25 Mei 20264 Views

    Mengenal Teknologi MRI Canggih Berbasis AI, 60% Lebih Akurat Tangani Penyakit Rumit

    By adm_imr24 Mei 20261 Views
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Aturan Baru SD hingga Pengantin Kabur, Viral Terpopuler

    25 Mei 2026

    Jumat, Hari Paling Mulia dalam Islam: Mengapa Disebut Raja Hari?

    25 Mei 2026

    Mengapa Beberapa Orang Berlari Cepat, Sedangkan Lainnya Tidak?

    25 Mei 2026

    Menjelang Idul Adha, Harga Sayuran Sumbar Melonjak di Bengkalis

    25 Mei 2026
    Berita Populer

    HUT ke-112 Kota Malang Jadi Momentum Evaluasi, Wali Kota Tekankan Penyelesaian Masalah Prioritas

    Kota Malang 1 April 2026

    Kota Malang- Wahyu Hidayat menegaskan bahwa peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-112 Kota Malang bukan…

    Kasus Perzinaan Oknum ASN Kota Batu Berujung Penjara, Vonis Diperberat di Tingkat Banding

    29 April 2026

    Banyak Layani Luar Daerah, Dinkes Kabupaten Malang Ubah UPT Kalibrasi Jadi BLUD

    27 Maret 2026

    Kejagung Sita Aset Kasus Ekspor CPO di Kota Malang, Tanah 157 Meter Persegi Dipasangi Plang

    2 Mei 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami
    © 2026 InfoMalangRaya.com. Designed by InfoMalangRaya

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?