Teks Khutbah Jumat Hari Ini, 22 Mei 2026: Landasan dan Hikmah Ibadah Kurban
Sesuai dengan tradisi yang telah berlangsung selama ini, hari ini, Jumat 22 Mei 2026, umat Islam khususnya laki-laki menjalani ibadah Shalat Jumat. Dalam shalat tersebut, terdapat khutbah yang menjadi bagian penting dari prosesi perayaan hari Jumat. Berikut adalah contoh teks khutbah Jumat untuk hari ini dengan tema “Landasan dan Hikmah Ibadah Kurban”.
Tahun ini, Idul Adha 2026 jatuh pada hari Rabu, 27 Mei 2026. Momen ini sangat tepat untuk menyampaikan pesan-pesan tentang kurban, sebuah bentuk ibadah yang memiliki makna mendalam dalam kehidupan seorang Muslim. Kata “khutbah” berasal dari bahasa Arab yang artinya pidato atau ceramah. Khutbah Jumat merupakan amalan yang membuat hari Jumat menjadi istimewa.
Dalam khutbah biasanya disampaikan nasihat, ajakan, perintah, atau informasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Contoh teks khutbah yang akan dibahas kali ini mengangkat tema landasan dan hikmah ibadah kurban. Berikut adalah teks khutbah yang bisa menjadi panduan:
Khutbah I
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِن شُرُورِ أَنفُسِنَا وَمِن سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَن يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَن يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نبينا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ
عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَتَقْوَى اللَّهِ فَوْزٌ لَنَا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَبِهِ الْكَرِيمِ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
وقال أيضا وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖوَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ
Para jemaah shalat Jumat yang dirahmati Allah,
Mari kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Takwa adalah bekal terbaik untuk menjaga kita di dunia dan akhirat. Shalawat serta salam marilah kita limpahkan kepada nabi kita, Rasulullah Muhammad Saw, semoga kita termasuk umat pengikut jejaknya.
Jemaah yang berbahagia, wujud ketakwaan kepada Allah salah satunya adalah ibadah kurban. Hal ini mengajarkan ketaatan dan menumbuhkan semangat pengorbanan. Kurban bukan sekadar ritual karena ini bertujuan untuk mendekatkan kita kepada Allah. Ibadah kurban punya landasan kokoh yang memperkuat pelaksanaannya. Hal ini tertulis dalam Al-Qur’an dan Hadis.
Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menjadi contoh utama. Allah menyebutkan dalam Surah ash-Shaffat ayat 102:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى ۖ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Tatkala anak itu cukup umur, Ibrahim berkata: Anakku, aku bermimpi menyembelihmu. Apa pendapatmu? Ismail menjawab: Ayah, laksanakan perintah itu. Insya Allah, aku sabar…”
[QS. ash-Shaffat: 102-107]. Nabi Ibrahim taat pada Allah dan siap korbankan putra tercinta. Nabi Ismail pasrah pada perintah-Nya, ia rela serahkan nyawa. Ketaatan mereka luar biasa, Allah ganti Ismail dengan sembelihan besar. Ini cikal bakal ibadah kurban.
Rasulullah SAW tegaskan dalam hadis dalam riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Majah, dari Zaid bin Arqam:
قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ مَا هَذِهِ الْأَضَاحِيُّ؟ قَالَ: سُنَّةُ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ ۖ قَالُوا: مَا لَنَا مِنْهَا؟ قَالَ: بِكُلِّ شَعْرَةٍ حَسَنَةٌ
“Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, apa itu kurban? Beliau jawab: Sunnah ayahmu Ibrahim. Mereka tanya: Apa pahalanya? Beliau jawab: Tiap bulu mendatangkan kebaikan.”
Hadis ini sah dan diterima karena mendapat konfirmasi dari Al-Qur’an dan Hadis.
Hadirin Shalat Jumat yang diberkahi Allah, dalil naqli juga sangat jelas. Al-Qur’an perintahkan kurban. Dalam Surah al-Kautsar ayat 2, Allah berfirman:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Salatlah untuk Tuhanmu dan berkurbanlah.” [QS. al-Kautsar: 2].
Ayat tersebut menjelaskan mengenai salat dan kurban adalah wujud syukur. Wujud ketaatan pada Allah. Dalam Surah al-Hajj ayat 34-35, Allah firmankan:
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۚ فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا ۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ
“Bagi setiap umat, Kami syariatkan kurban. Agar mereka ingat Allah atas rezeki hewan ternak…” [QS. al-Hajj: 34-35].
Ayat ini jelaskan tujuan kurban dan mengingat Allah. Menunjukkan ketundukan dan memperkuat iman umat muslim.
Dalam Surah al-Hajj ayat 36, Allah tambahkan:
وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللهِ
“Kami jadikan unta-unta itu bagian dari syiar Allah…” [QS. al-Hajj: 36].
Dari Hadis, Rasulullah SAW, riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Majah, dari Abu Hurairah:
مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا
“Siapa mampu berkurban tapi tidak melakukannya, jangan dekati tempat shalat kami.”
Hadis ini menjadi peringatan keras bahwa kurban menjadi suatu keharusan bagi yang mampu.
كُلُّ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ ذَبْحٌ
“Semua hari Tasyriq adalah hari menyembelih.”
Jemaah yang dirahmati Allah, kurban ajarkan tiga nilai utama, yang pertama ketaatan. Nabi Ibrahim dan Ismail jadi teladan, mereka serahkan segalanya untuk Allah. Kedua adalah pengorbanan, jadi kurban melatih kita untuk melepaskan hal yang dicintai demi Allah dan kebaikan. Ketiga, tentang kepedulian, di mana daging kurban bisa membantu fakir miskin dan juga bisa menciptakan kebahagiaan bersama. Kurban juga melatih jiwa embelih sifat egois. Selain itu berkurban juga membasmi sikap kikir dan mendekatkan hati pada Allah. Setiap tetes darah kurban bernilai pahala. Rasulullah bersabda:
بِكُلِّ شَعْرَةٍ حَسَنَةٌ
“Setiap bulu kurban mendatangkan kebaikan.”
Mari maknai kurban dengan benar, bukan hanya menyembelih hewan tetapi memperbaiki hati dan meningkatkan iman serta menyebarkan kasih sayang.
Hadirin Jamaah Jumat yang berbahagia, Idul Adha segera tiba, maka ini saatnya kita sambut dengan gembira. Kurban bukan sekadar hewan, karena ini menjadi simbol pengabdian.
وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ
“Kami jadikan unta-unta itu syiar Allah. Ada kebaikan besar di dalamnya…” [QS. al-Hajj: 36].
Jangan lupa hikmah kurban adalah melatih kita untuk sabar. Ajarkan ikhlas juga membangun empati pada sesama. Jadikan Idul Adha sebagai momen berbenah dan memperbaiki akhlak. Selain itu momen ini juga berfungsi untuk meningkatkan ibadah dan mendekatkan diri pada Allah. Semoga kurban kita diterima dan jadi jalan menuju ridha-Nya serta membawa kita ke surga-Nya. Amin.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَـٰلَمِينَ وَصَلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
عِبَادَ اللَّهِ اتَّقُوا اللَّـهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
إِنَّ اللّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَرَضِيَ اللّهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللّهِ أَجْمَعِينَ
اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
اللّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
رَبَّنَا آتِنا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Syarat Khutbah Jumat yang Sah Menurut Ulama
Berikut syarat-syarat berkhutbah yang baik dan sah menurut para ulama:
- Khatib berdiri di hadapan jemaah atau orang banyak.
- Khutbah Jumat dilakukan dua kali setelah tergelincir matahari dengan ringan atau pendek dari bacaan salat.
- Disunahkan membaca tahmid atau puji-pujian kepada Allah SWT, selawat kepada Nabi SAW, wasiat takwa, doa, dan membaca ayat Alquran saat pelaksanaan khutbah Jumat.
- Pelaksanaan khutbah Jumat dilakukan di dalam masjid. Jika khutbah dilaksanakan di luar masjid, maka tidak sah karena khutbah Jumat sama seperti pelaksanan salat.
- Pelaksanaan khutbah Jumat dilakukan sebelum salat. Jika dilaksanakan setelah salat, maka tidak sah.
- Pelaksanaan khutbah Jumat dihadiri oleh jamaah salat Jumat.
- Pelaksanaan khutbah Jumat dilakukan dengan suara yang nyaring, baik dengan bahasa Arab atau bahasa lainnya.
- Duduk dengan tenang di antara dua khutbah seperti duduk antara dua sujud.
- Pelaksanaan khutbah harus menutup aurat dan dalam keadaan suci dari hadas kecil dan hadas besar, baik badan, pakaian beserta tempatnya.
Rukun Khutbah Jumat Menurut Mahzab Syafi’i
- Membaca Tahmid
- Selawat kepada Nabi Muhammad SAW
- Wasiat Takwa
- Membaca Ayat Alquran
- Berdoa.






