Kehidupan dan Perjalanan Spiritual Muhammad Nur Jabir
Muhammad Nur Jabir adalah seorang penulis Indonesia yang memiliki fokus pada mistisisme Islam, khususnya ajaran wahdat al-wujud (Kesatuan Wujud). Ia juga merupakan penulis kitab Samudra Wahdatul Wujud dan Direktur Institut Rumi Indonesia. Institusi ini berupaya mengeksplorasi ajaran spiritual dan metafisika yang terinspirasi oleh tokoh-tokoh seperti Ibnu Arabi dan Mullah Sadra.
Karya-karyanya selalu berpusat pada Sufisme, kesatuan eksistensi, serta hubungan antara Tuhan, penciptaan, dan kesadaran manusia. Perjalanan spiritualnya tidaklah mudah dan penuh liku-liku, hingga akhirnya ia kembali ke jalan Tuhan dan memeluk agama Islam dengan penuh keyakinan.
Pengalaman Sebelum Menjadi Ateis
Uztaz Nur Jabir, panggilan akrabnya, pernah mengalami proses pencarian jati diri yang serupa dengan banyak orang lainnya. Ia juga pernah merasa kehilangan arah, mempertanyakan banyak hal, tetapi tidak menemukan jawaban yang memuaskan. Pada akhirnya, ia memilih menjadi seorang ateis.
“Sebelum menjadi ateis, saya sudah memeluk agama Islam,” ujarnya dalam sebuah event Bali Spirit Festival di Puri Padi, Ubud, Gianyar, Bali, 18 April 2026. Ia bahkan pernah menjadi anak pesantren, yang identik dengan pendidikan agama intensif.
“Saya kuliah, bertemu teman yang sosialis, akhirnya saya menjadi ateis. Karena saya merasa tidak menemukan jawaban tentang hakekat diri dan proses pencarian jati diri saya,” katanya. Ketika menjadi ateis, ia tidak percaya pada kehidupan setelah kematian.
Namun, meskipun begitu, masih ada iman dalam dirinya, sehingga ia tidak memilih jalan pintas seperti nekat mengakhiri hidup atau hidup semaunya tanpa memperhatikan hal baik dan buruk.
Kenalan dengan Ajaran Sufi
Akhirnya, ia menemukan jawaban-jawaban dari pertanyaannya di dalam ajaran Sufi. Sufi adalah individu yang mendalami tasawuf, yaitu gerakan mistik Islam yang berfokus pada penyucian jiwa, pengendalian diri yang ketat, dan pencapaian cinta serta perjumpaan langsung dengan Tuhan (makrifat).
Sufi menekankan pengalaman batin, keikhlasan hati, dan menjauhi keterikatan duniawi untuk mendekatkan diri kepada Allah. “Di sini perjalanan dimulai, pertama-tama saya kembali belajar tentang filosofi dan dari filsafat, saya masuk lebih dalam, saya menemukan kekayaan dan keluasan batin, jadi ini tahapan perjalanan kehidupan saya menjadi sangat ketat, religi dan makna filosofis kemudian masuk ke dunia sufi,” ujarnya.
Ia kemudian berdamai dan kembali memeluk Islam serta mempercayai Allah. Salah satu kiblatnya dalam dunia sufi adalah Jalaluddin Rumi alias Rumi. Seorang pemikir dalam dunia Muslim yang lahir antara tahun 1207 atau 1208.
“Pemikiran beliau memengaruhi banyak orang. Tahun 2000 bukunya best seller dan sejajar dengan Khalil Gibran. Di Eropa, beliau sangat familiar dan bukunya sudah diterjemahkan ke 34 bahasa asing. Bahkan ada Rumi’s Day yang diciptakan oleh UNESCO,” jelasnya.
Rumi adalah seorang filusuf sufi dengan ajaran tasawuf. “Rumi ini sufi yang menuliskan pengalaman batinnya dalam bentuk syair,” tambahnya. Salah satu kitab terkenalnya adalah Masnawi dengan sekitar 36 ribu bait syair yang isinya tentang berbagai hal, terutama tentang cinta.
Harapan dengan Bali Spirit Festival
Harapan Nur Jabir dengan hadirnya Bali Spirit Festival ini adalah agar semua ajaran terbaik dapat memberikan kedamaian di dunia. Agama, menurutnya, memberikan pencerahan dan membantu manusia menemukan kedamaian dalam diri dan di luar dirinya.
“Tidak ada perbedaan dan pembedaan, mengingat jati diri sejati manusia berasal dari satu hakekat dan satu realitas. Karena itu, saya sangat bersyukur menjadi seorang sufi, dan semoga semangat Bali Spirit ini lebih besar dan luas lagi ke depannya sehingga setiap orang bisa memahami nilai kemanusiaan,” imbuhnya.







