Alun-alun Merdeka, Ruang Publik yang Semakin Menarik Selama Ramadan
Alun-alun Merdeka di Kota Malang kini menjadi tempat yang sangat diminati oleh warga setempat untuk menunggu waktu berbuka puasa atau melakukan ngabuburit selama bulan Ramadan. Area ruang terbuka hijau yang berada di jantung kota ini tampil lebih rapi, bersih, dan nyaman setelah proses revitalisasi pada akhir 2025 lalu. Hal ini membuat banyak warga memilih Alun-alun Merdeka sebagai tempat berkumpul, berolahraga ringan, hingga menunggu waktu berbuka puasa.
Ira Kusumawati, warga Kelurahan Purwantoro, mengatakan bahwa sekarang Alun-alun Merdeka jauh lebih representatif untuk berkumpul dengan keluarga. Ia hampir setiap minggu berkunjung ke sana untuk bersantai. Menurutnya, penataan alun-alun yang rapi dan suasana yang lebih bersih menjadikannya tempat yang sangat nyaman untuk ngabuburit, terutama saat Ramadan.
Revitalisasi Alun-alun Merdeka tidak hanya mempercantik tampilan, tetapi juga memperbaiki dan menambah berbagai fasilitas publik. Ira menilai fasilitas-fasilitas tersebut menjadikan Alun-alun Merdeka sebagai ruang publik yang benar-benar hidup untuk berbagai kalangan. Pada sore hari, banyak keluarga yang duduk di area rumput, sementara anak-anak bermain gelembung atau air mancur. Para kreator juga sering menggunakan ruang ini untuk foto produk atau konten.
Pada waktu jelang berbuka puasa, suasana di alun-alun biasanya semakin ramai. Warga memanfaatkan waktu untuk bercengkerama, membaca, atau menikmati jajanan kaki lima yang berada di sekitar alun-alun. Ira menyebutkan bahwa penataan pedagang di sekitar alun-alun kini lebih rapi, sehingga memberikan pengalaman yang lebih baik bagi pengunjung.
Penyediaan Makanan Berbuka Puasa di Masjid Agung Jami
Lokasi Alun-alun Merdeka yang dekat dengan Masjid Agung Jami menjadikannya sangat cocok untuk ngabuburit. Sambil menunggu datangnya azan Magrib, warga bisa iktikaf di masjid bersejarah tersebut. Setiap hari, Masjid Agung Jami menyediakan 100 porsi makanan untuk berbuka puasa. Namun, banyak juga jemaah yang menyiapkan atau donasi menu takjil dan juga menu untuk membuka puasa.
Mahmudi Muhith, Sekretaris Yayasan Masjid Agung Jami, mengatakan bahwa banyak jemaah yang menyumbang. Ada yang dibagikan sendiri, dan ada yang diserahkan ke takmir. Yayasan Masjid Agung Jami telah menyiapkan berbagai agenda ibadah dan layanan untuk jamaah selama Ramadan. Setiap hari ada Salat Tarawih dan Salat Witir berjemaah. Setelah Salat Tarawih berjemaah, ada tadarus Al Qur’an.
Pada 10 malam terakhir Ramadan, juga ada qiyamul lail di Masjid Agung Jami. Biasanya qiyamul lail dimulai pukul 23.00 WIB sampai pukul 02.00 WIB. Mahmudi memprediksi bahwa kegiatan malam akan ramai seperti saat Salat Jumat. Masjid Agung Jami juga menggelar tradisi makan bersama atau talaman pada 10 hari terakhir Ramadan. Ia mengimbau jemaah yang ingin mengikuti tradisi talaman datang sekitar pukul 17.00 WIB.
Setelah azan, pihak masjid memberikan kurma ke jemaah dulu, lalu Salat Magrib. Makanan baru dibagikan setelah Salat Magrib. Selain ibadah umum, Masjid Agung Jami juga menyediakan layanan manasik haji mulai 3–20 Ramadan. Layanan ini terbuka bagi calon jemaah maupun masyarakat yang ingin belajar praktik ibadah haji.
Ada juga kegiatan Pesantren Ramadan yang bekerja sama dengan sejumlah sekolah seperti SMKN 7, SMAN 6, dan SMA Nala. Para siswa dibawa ke masjid untuk mengikuti kajian-kajian Ramadan. Dengan berbagai kegiatan ini, Masjid Agung Jami menjadi pusat aktivitas spiritual selama bulan Ramadan.







