Pembatalan Pertemuan AS-Iran di Swiss
Kementerian Luar Negeri Swiss mengumumkan pembatalan pertemuan antara Amerika Serikat dan Iran yang seharusnya berlangsung pada 19 Juni 2026. Keputusan ini diambil setelah Wakil Presiden AS J.D. Vance membatalkan perjalanan dan delegasi Iran menunda keberangkatan karena menyoroti serangan Israel di Lebanon selatan.
Serangan tersebut dinilai melanggar nota kesepahaman yang telah disepakati oleh kedua belah pihak. Meski demikian, nota kesepahaman AS-Iran yang ditandatangani pada 17 Juni 2026 tetap berlaku.
Alasan Pembatalan Pertemuan
Pembatalan pertemuan terjadi beberapa jam setelah juru bicara Gedung Putih menyatakan bahwa Wakil Presiden AS J.D. Vance membatalkan rencana perjalanan untuk bertemu dengan para negosiator Iran di Swiss. Pernyataan Gedung Putih mengonfirmasi bahwa rencana pertemuan belum sepenuhnya disepakati.
“Rencana untuk pembicaraan teknis yang akan datang belum difinalisasi, dan delegasi AS telah siap untuk berangkat pada kesempatan pertama yang tersedia,” kata pernyataan Gedung Putih pada Kamis (18/6/2026) malam.
Namun, logistik negosiasi ini tidak pernah sederhana atau dapat diprediksi. Hingga saat ini, Wakil Presiden (JD Vance) tidak akan berangkat malam ini.
Delegasi Iran Menunda Perjalanan
Sumber pejabat Iran yang dirahasiakan mengatakan kepada Al Mayadeen bahwa delegasi Iran menangguhkan perjalanan mereka ke Swiss untuk berpartisipasi dalam putaran pertama negosiasi. “Delegasi negosiasi Iran telah menangguhkan perjalanan mereka ke Swiss untuk berpartisipasi dalam putaran pertama negosiasi, karena serangan Israel yang terus berlanjut di Lebanon selatan,” kata sebuah sumber kepada Al-Mayadeen, Jumat.
Serangan tersebut melanggar poin pertama dalam nota kesepahaman yang menyebutkan AS, Iran, dan sekutu menghentikan operasi militer di semua front termasuk Lebanon. Iran memberi tahu pihak Amerika Serikat dan para mediator bahwa isu Lebanon merupakan inti dari semua hal yang berkaitan dengan kelanjutan atau penghentian negosiasi.
Penjelasan Tentang Serangan Israel
Teheran memperingatkan, berlanjutnya tindakan dan serangan Israel, sepuluh kilometer di dalam wilayah Lebanon, merupakan pelanggaran nyata terhadap nota kesepahaman, laporan The Guardian.
Sebelumnya, Perdana Menteri Israel Netanyahu menolak menarik mundur tentaranya dari Lebanon selatan meski AS dan Iran telah menandatangani nota kesepahaman. Israel menganggap kesepakatan tersebut mengabaikan keamanannya dan berdalih militernya tetap mempertahankan diri dari Hizbullah, kelompok bersenjata di Lebanon yang didukung Iran.
Trump mengingatkan Netanyahu agar bersikap lebih rasional dan bertanggung jawab mengenai aksi militernya di Lebanon. Beberapa minggu sebelum nota kesepahaman ditandatangani, Israel memperluas operasi militernya di Lebanon selatan, hingga melakukan operasi darat yang menewaskan warga sipil.
Proses Negosiasi 60 Hari
Secara terpisah, Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani salinan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) pada 17 Juni 2026. Salinan dokumen tersebut sebelumnya telah ditandatangani oleh J.D. Vance dan kepala negosiator Iran Mohammad Bagher Ghalibaf pada hari Minggu.
Pakistan selaku mediator AS-Iran mengonfirmasi bahwa dokumen tersebut resmi berlaku sejak ditandatangani. J.D. Vance mengatakan periode negosiasi selama 60 hari resmi dimulai.
Pertemuan yang direncana hari ini merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman yang telah ditandatangani. Namun, dengan ketidakhadiran kedua pihak maka pembicaraan tersebut dibatalkan, laporan The Jerusalem Post.
Latar Belakang Perang AS-Israel VS Iran
Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran meletus pada 28 Februari 2026 setelah Washington dan Tel Aviv melancarkan serangan ke sejumlah fasilitas strategis milik Iran usai perundingan nuklir di Jenewa, Swiss, gagal mencapai kesepakatan.
Amerika Serikat dan Israel menuding Iran sedang mengembangkan program senjata nuklir. Namun, Teheran menolak tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa aktivitas nuklirnya hanya diperuntukkan bagi kepentingan sipil dan tujuan damai.
Situasi semakin memanas setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang kemudian digantikan oleh Mojtaba Khamenei. Sebagai respons terhadap serangan tersebut, Iran melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel serta sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia. Teheran juga memperketat pengawasan terhadap lalu lintas pelayaran yang melintasi Selat Hormuz.
Setelah sekitar 40 hari pertempuran berlangsung, upaya mediasi yang difasilitasi Pakistan berhasil mendorong tercapainya gencatan senjata sementara pada 8 April 2026. Proses diplomasi kemudian terus berlanjut hingga Presiden AS Donald Trump pada 15 Juni 2026 mengumumkan tercapainya nota kesepahaman (MoU) dengan Iran sebagai landasan perundingan lanjutan selama 60 hari.
Berdasarkan kesepakatan awal tersebut, Iran diperbolehkan melanjutkan pengayaan uranium untuk kebutuhan sipil di bawah pengawasan internasional serta berkomitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Sebagai bagian dari kesepakatan, Iran berharap memperoleh pelonggaran sanksi ekonomi, pencairan aset-aset yang selama ini dibekukan, serta normalisasi pelayaran internasional melalui Selat Hormuz.
Meski demikian, proses menuju perdamaian permanen masih menghadapi berbagai hambatan, termasuk perbedaan kepentingan di antara para pihak serta keberatan Israel terhadap sejumlah poin dalam kesepakatan tersebut.
Kendati demikian, nota kesepahaman itu akhirnya ditandatangani lebih cepat dari jadwal semula. Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian resmi menandatangani dokumen tersebut pada 17 Juni 2026, dua hari lebih awal dari agenda yang sebelumnya direncanakan berlangsung di Swiss pada 19 Juni 2026.






