Penyakit Leptospirosis Meningkat di Gunungkidul
Pada awal tahun 2026, kasus leptospirosis di Kabupaten Gunungkidul mengalami peningkatan yang signifikan. Dalam beberapa bulan terakhir, sebanyak 13 warga terinfeksi penyakit ini, dengan tiga di antaranya meninggal dunia. Mayoritas korban berasal dari wilayah Playen, yang menjadi pusat penyebaran penyakit ini.
Penyakit leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira yang terdapat dalam air kencing tikus. Penularannya terjadi melalui kontak langsung dengan air atau tanah yang tercemar, sehingga petani menjadi kelompok yang paling rentan terkena infeksi. Hal ini dikarenakan aktivitas mereka sering kali berada di area sawah yang memiliki genangan air dan lingkungan yang cocok untuk perkembangbiakan tikus.
Gejala dan Bahaya Leptospirosis
Gejala leptospirosis biasanya muncul mendadak dan mirip dengan gejala flu atau demam berdarah. Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain:
- Demam tinggi
- Nyeri otot, terutama pada bagian betis dan punggung
- Sakit kepala hebat
- Mata merah
- Mual, muntah, atau diare
- Pada kasus yang lebih parah, kulit dan mata bisa menguning (jaundice)
Jika tidak segera ditangani, leptospirosis dapat berkembang menjadi kondisi yang berbahaya, seperti gagal ginjal akut, gangguan fungsi hati, meningitis, atau pendarahan di paru-paru. Kondisi ini dikenal sebagai Penyakit Weil.
Upaya Pencegahan yang Harus Dilakukan
Untuk mencegah penyebaran leptospirosis, masyarakat, khususnya para petani, diminta untuk meningkatkan kewaspadaan. Berikut beberapa langkah pencegahan yang direkomendasikan:
- Gunakan sepatu bot dan sarung tangan saat bekerja di sawah, selokan, atau area banjir.
- Cuci tangan dan kaki dengan sabun setelah beraktivitas di luar ruangan.
- Tutup semua luka di kulit dengan plester kedap air.
- Lakukan pengendalian hama di sekitar rumah untuk mencegah berkembang biaknya tikus.
- Vaksinasi hewan peliharaan, seperti anjing dan ternak, agar tidak menjadi sumber penularan.
Peran Pemerintah dan Masyarakat
Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono, menyampaikan bahwa kasus leptospirosis di daerah ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Tahun 2025 hanya ada satu korban meninggal, sedangkan pada awal 2026 jumlah korban meninggal mencapai tiga orang. Wilayah Playen menjadi zona merah karena adanya lima kasus yang dilaporkan, dua di antaranya meninggal dunia.
Ismono menyarankan kepada masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan (faskes) jika mengalami gejala-gejala di atas. Ia juga menekankan pentingnya menjaga kebersihan dan kesadaran diri dalam menghadapi penyakit ini.
Informasi Umum tentang Leptospirosis
Leptospirosis adalah penyakit infeksi akut yang termasuk dalam kategori zoonosis, yaitu penyakit yang menular dari hewan ke manusia. Meskipun sering disebut sebagai “penyakit kencing tikus”, bakteri Leptospira sebenarnya bisa dibawa oleh berbagai jenis hewan, termasuk sapi, babi, anjing, dan kuda.
Penularan terjadi melalui kontak langsung atau tidak langsung dengan urine hewan yang terinfeksi. Bakteri ini masuk ke tubuh manusia melalui luka terbuka, mata, hidung, atau mulut. Oleh karena itu, mencegah kontak dengan lingkungan yang terkontaminasi sangat penting untuk menghindari risiko infeksi.
Kesimpulan
Penyakit leptospirosis tetap menjadi ancaman bagi masyarakat, terutama di daerah pertanian. Dengan meningkatnya kasus di Gunungkidul, penting bagi masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dan menerapkan langkah-langkah pencegahan yang telah disarankan. Selain itu, kerja sama antara pemerintah dan masyarakat sangat diperlukan untuk meminimalisir penyebaran penyakit ini.





