Kondisi Peternak Telur Puyuh di Kabupaten Pasuruan Mengkhawatirkan
Permintaan dari dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menurun drastis mulai berdampak serius terhadap para peternak telur puyuh di Kabupaten Pasuruan. Setelah Bulan Ramadan berakhir, penyerapan telur puyuh oleh program tersebut mengalami penurunan yang signifikan. Hal ini menyebabkan sejumlah peternak mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah setiap hari.
Salah satu peternak yang terdampak adalah Mahrus, warga Desa Gajahrejo, Kecamatan Purwodadi. Ia mengaku bahwa hasil produksinya dalam beberapa pekan terakhir terpaksa dibuang karena tidak laku dan mulai membusuk. “Biasanya masih ada dapur MBG yang ambil. Sekarang produksi banyak, sampai menumpuk dan rusak tidak ada yang ambil,” ujarnya.
Mahrus menjelaskan bahwa selama Ramadan, telur puyuh cukup banyak digunakan untuk kebutuhan menu dapur MBG. Namun setelah Lebaran, permintaan hampir berhenti total sehingga pasar menjadi lesu. Produksi telur dari peternak tetap berjalan setiap hari, namun biaya operasional terus meningkat, terutama untuk kebutuhan pakan ternak.
Saat ini, Mahrus mengelola sekitar 30 ribu ekor burung puyuh di kandangnya. Dari usaha tersebut, produksi telur yang dihasilkan mencapai sekitar dua ton per hari. Untuk memenuhi kebutuhan ternak, sedikitnya satu ton pakan harus disiapkan setiap hari dengan biaya mencapai sekitar Rp 7,25 juta.
Namun, harga jual telur puyuh justru terus mengalami penurunan. Ia menyebut harga pokok produksi berada di kisaran Rp 24 ribu per kilogram. Namun harga jual di pasaran saat ini hanya berkisar Rp 16 ribu hingga Rp 21 ribu per kilogram. “Kalau dihitung ya pasti rugi. Selisihnya bisa sampai Rp 4 ribu per kilo,” katanya.
Dengan jumlah produksi sekitar dua ton per hari, kerugian yang ditanggung diperkirakan mencapai Rp 16 juta per hari. Nilai tersebut belum termasuk biaya tenaga kerja dan operasional lainnya. Untuk mempertahankan usahanya tetap berjalan, Mahrus mengaku terpaksa menjual aset pribadi untuk membeli pakan ternak. “Kendaraan sudah saya jual. Yang penting ternak tetap hidup dulu,” ucapnya.
Mahrus juga menjelaskan bahwa dirinya tidak hanya mengandalkan produksi kandang pribadi. Selama ini ia turut menampung hasil telur dari peternak kecil di wilayah sekitar yang sebagian modal usahanya berasal dari pinjaman bank. Karena itu, ketika pasar melemah, dampaknya ikut dirasakan peternak lain yang menggantungkan penjualan kepadanya.
Meski berada dalam situasi sulit, Mahrus mengaku tidak ingin memonopoli pasokan telur puyuh untuk program MBG. Ia hanya berharap dapur-dapur MBG kembali menyerap hasil peternak lokal agar roda usaha masyarakat tetap berjalan. “Tidak harus lewat saya. Yang penting peternak lokal tetap bisa hidup,” tegasnya.
Ia berharap pemerintah maupun pengelola program MBG dapat kembali memasukkan telur puyuh dalam menu makanan setidaknya satu atau dua kali dalam sepekan agar hasil produksi peternak tetap terserap pasar.
Tantangan Peternak Telur Puyuh di Pasuruan
- Penurunan Permintaan: Setelah Ramadan, permintaan dari dapur MBG menurun secara drastis.
- Produksi Tetap Berjalan: Meskipun permintaan menurun, produksi telur puyuh tetap dilakukan setiap hari.
- Biaya Operasional Meningkat: Biaya pakan ternak dan operasional lainnya terus bertambah.
- Harga Jual Menurun: Harga jual telur puyuh di pasaran lebih rendah daripada harga pokok produksi.
- Kerugian Besar: Kerugian harian diperkirakan mencapai Rp 16 juta per hari.
- Tindakan Darurat: Peternak terpaksa menjual aset pribadi untuk membiayai operasional.
- Dampak pada Peternak Lain: Peternak kecil yang bergantung pada Mahrus juga terkena dampak negatif.






