Pengalaman Berharga Siswa SLB dalam Perayaan Lebaran
Di pusat kota Madiun, sejumlah siswa sekolah luar biasa (SLB) tampak begitu bahagia saat mereka menyusuri lorong sebuah pusat perbelanjaan. Di tangan mereka tergenggam baju baru yang akan dikenakan pada Hari Raya Idulfitri. Bagi sebagian orang, membeli baju Lebaran mungkin menjadi rutinitas tahunan yang sederhana. Namun bagi para siswa berkebutuhan khusus ini, pengalaman tersebut menjadi momen yang sangat berkesan.
Kegiatan itu merupakan bagian dari gerakan Ramadan Pendidikan Berdampak yang digagas oleh Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai. Sebanyak 30 siswa SLB bersama 10 guru dan tenaga kependidikan diajak langsung berbelanja baju Lebaran di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Madiun, Jumat (13/3). Selain berbelanja, para siswa juga menerima santunan serta berbagi kebahagiaan Ramadan dengan menikmati hidangan takjil bersama.
Menurut Aries, kegiatan tersebut bukan sekadar memberikan bantuan, tetapi bagian dari upaya menghadirkan pendidikan yang memiliki dampak sosial nyata bagi peserta didik. “Pendidikan tidak hanya berbicara tentang akademik. Pendidikan harus mampu membangun kepedulian sosial, empati, dan nilai-nilai kemanusiaan,” ujar Aries.
Bagi para siswa SLB, pengalaman itu bukan sekadar mendapatkan pakaian baru. Mereka juga merasakan kehadiran sekolah dan pemerintah yang peduli terhadap kebutuhan mereka. Di balik tawa kecil dan wajah ceria para siswa, tersimpan pesan sederhana bahwa pendidikan yang baik tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menumbuhkan rasa peduli.
Program Ramadan Pendidikan Berdampak
Program Ramadan Pendidikan Berdampak 1447 Hijriah menjadi salah satu gerakan yang didorong Dinas Pendidikan Jawa Timur agar sekolah memanfaatkan bulan Ramadan sebagai momentum memperkuat nilai spiritual, karakter, dan kepedulian sosial siswa.
Aries menjelaskan berbagai kegiatan digelar di sekolah-sekolah selama Ramadan, mulai dari pondok Ramadan, pesantren kilat tematik, penguatan karakter dan keimanan, hingga pembelajaran yang mengintegrasikan nilai spiritual dalam proses belajar. “Sekolah juga kami dorong melakukan kegiatan sosial seperti bazar sembako murah untuk masyarakat, santunan bagi siswa yang membutuhkan, bazar makanan hasil program double track, hingga kegiatan berbagi takjil,” katanya.
Selain itu, terdapat pula kegiatan kreatif yang mendorong pembelajaran inovatif seperti lomba ceramah agama, proyek pembelajaran tematik Ramadan, hingga gerakan Ramadan tanpa sampah plastik. “Semua kegiatan itu dirancang agar pendidikan tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi mampu memberi dampak bagi lingkungan sosial,” ujarnya.
Perhatian Pemerintah Terhadap Siswa Berkebutuhan Khusus
Perhatian pemerintah terhadap siswa berkebutuhan khusus juga tidak berhenti pada kegiatan sosial. Sejak 2020, Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Pendidikan menginisiasi program Vokasi Istimewa untuk meningkatkan kompetensi siswa anak berkebutuhan khusus. Program tersebut memberikan pelatihan berbagai keterampilan seperti tata boga, tata kecantikan, otomotif, hingga kreasi hantaran dan kerajinan dari barang bekas.
“Program ini sangat dibutuhkan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Di tengah keterbatasan, mereka harus memiliki bekal kompetensi dari pengembangan bakat dan minat yang dilatih di sekolah,” kata Aries. Dia menegaskan pendidikan berkualitas merupakan hak bagi semua anak, termasuk siswa berkebutuhan khusus. Melalui program Vokasi Istimewa, Dinas Pendidikan Jawa Timur berharap siswa SLB dapat tumbuh mandiri dan memiliki keterampilan untuk masa depan.
Kehadiran Ramadan di Sekolah-Sekolah Wilayah Madiun–Ngawi
Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jatim wilayah Madiun–Ngawi, Lena, mengatakan semangat Ramadan Pendidikan Berdampak juga terasa di berbagai sekolah di wilayah tersebut. Menurut dia, sekolah tidak hanya menggelar kegiatan religius, tetapi juga mengajak siswa merasakan makna berbagi dan kebersamaan. “Salah satunya melalui kegiatan khataman Al-Qur’an bersama ratusan siswa sebagai upaya memperkuat keimanan sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial,” ujarnya.
Selama Ramadan, lanjut Lena, proses pembelajaran di sekolah juga menekankan pada penguatan iman, ketakwaan, sikap sosial, serta pembentukan karakter siswa.







