Prof. Septiana Dwiputrianti Dikukuhkan sebagai Guru Besar dengan Fokus pada Meritokrasi dan Integritas ASN
Prof. Septiana Dwiputrianti resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Kepakaran Kebijakan dan Governansi Publik di Politeknik STIA LAN Bandung. Dalam pidato pengukuhan tersebut, ia menekankan pentingnya meritokrasi adaptif dan integritas dalam pemerintahan, khususnya dalam pengelolaan kebijakan publik.
Pentingnya Meritokrasi dalam Birokrasi
Menurut Prof. Septiana, kualitas kebijakan publik tidak hanya bergantung pada desain atau besarnya anggaran, tetapi juga pada tata kelola dan keteladanan pimpinan. Ia menyatakan bahwa sistem meritokrasi adalah nilai mendasar dalam mengelola pemerintahan karena berkaitan langsung dengan kinerja dan akuntabilitas aparatur sipil negara.
“Meritokrasi adalah nilai mendasar dalam mengelola pemerintahan karena berkaitan langsung dengan kinerja dan akuntabilitas aparatur sipil negara,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa tanpa sistem merit yang kuat, pengelolaan sumber daya negara berisiko dipengaruhi oleh kepentingan politik dan praktik yang tidak profesional. Namun, membangun meritokrasi bukan perkara instan. Prof. Septiana menekankan pentingnya internalisasi nilai, etika, dan integritas sejak dini. Ia bahkan mengingatkan bahwa tantangan terbesar justru muncul ketika nilai-nilai tersebut tidak tercermin dari para pimpinan.
“Bagaimana nilai itu bisa tumbuh kalau pimpinan tidak memberikan contoh?” ujarnya.
Era Disrupsi Digital dan Kesiapan ASN
Di era disrupsi, ASN juga diwajibkan melek digital demi meningkatkan akuntabilitas pelayanan. Menurut Prof. Septiana, kemampuan adaptasi terhadap teknologi kini menjadi kebutuhan mutlak, bukan lagi pilihan.
“Kita berada di era disruptif, mau tidak mau, suka tidak suka, perubahan harus dilakukan. ASN harus melek digital,” tegasnya.
Menurutnya, kepemimpinan di sektor publik saat ini tidak cukup hanya mengandalkan kompetensi substantif, tetapi juga harus mampu membaca dan merespons perkembangan teknologi. Hal ini menjadi krusial dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelayanan publik.
Desain Kebijakan dan Tata Kelola Anggaran
Dalam kajiannya, Prof. Septiana juga menemukan bahwa besarnya anggaran tidak selalu berbanding lurus dengan hasil pembangunan. Ia menilai, persoalan utama justru terletak pada tata kelola dan pemanfaatan anggaran.
“Kadang anggaran besar, tapi dampaknya tidak signifikan. Artinya, masalahnya bukan pada jumlah anggaran, tapi pada bagaimana anggaran itu dikelola,” jelasnya.
Ia menambahkan, bahkan desain kebijakan yang baik pun tidak akan menghasilkan dampak optimal jika dijalankan oleh sumber daya manusia yang tidak memiliki integritas dan akuntabilitas.
“Desain policy bisa saja sudah benar, tapi kalau dijalankan oleh ASN yang tidak amanah, hasilnya tetap tidak optimal,” katanya.
Konsep Meritokrasi Adaptif dan Kolaborasi
Untuk itu, ia menawarkan konsep meritokrasi adaptif yang menekankan pentingnya integrasi berbagai aspek, mulai dari desain kebijakan, penganggaran, hingga pemanfaatan teknologi. Ia juga menegaskan bahwa pembangunan tidak bisa dilakukan secara parsial.
“Harus ada kolaborasi antar aktor, tidak hanya pemerintah, tapi juga swasta dan masyarakat,” ujarnya.
Potensi Jawa Barat dan Kepemimpinan Akuntabel
Terkait pembangunan di Jawa Barat, Prof. Septiana menilai provinsi ini memiliki potensi besar, baik dari sisi sumber daya maupun pertumbuhan ekonomi. Namun, ia mengingatkan bahwa potensi tersebut harus dioptimalkan melalui kepemimpinan yang akuntabel dan mampu memanfaatkan kekuatan yang ada.
“Kita tidak bicara benar atau salah, tapi sejauh mana akuntabilitas pimpinan dalam membawa Jawa Barat menjadi lebih baik,” katanya.
Refleksi Pribadi sebagai Perempuan Berprestasi
Di balik capaian akademiknya, Prof. Septiana juga membagikan refleksi personal sebagai seorang perempuan yang berhasil mencapai posisi guru besar. Ia menekankan bahwa keberhasilan tidak datang secara instan, melainkan melalui komitmen, konsistensi, dan dukungan dari banyak pihak.
“Capaian itu tidak ada yang sifatnya solo. Ini adalah hasil dari collective action,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara karier, kesehatan fisik, dan kehidupan keluarga. Menurutnya, dukungan keluarga menjadi faktor kunci dalam perjalanan kariernya.
“Tanpa dukungan suami, anak, dan keluarga, saya mungkin tidak bisa sampai di titik ini,” katanya.







