Kehadiran Hasto Kristiyanto di Surabaya dengan Lari Pagi
Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengawali kegiatannya di Surabaya dengan lari pagi di Lapangan THOR. Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan pentingnya membiasakan gaya hidup sehat sekaligus membangun karakter generasi muda yang disiplin, tekun, dan menjunjung tinggi sportivitas.
Hasto juga mendorong pemanfaatan ruang publik serta penambahan lintasan olahraga. Ia berlari bersama Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya sekaligus Wakil Wali Kota Surabaya Armuji, Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin, anggota DPR RI Novita Hardini, serta anak-anak muda yang tergabung dalam Sub Banteng Culture Surabaya.
Suasana berlangsung santai. Hasto dan rombongan berbaur dengan warga serta komunitas pelari yang sejak pagi memanfaatkan lintasan atletik THOR untuk berolahraga. “Menjaga kesehatan itu dimulai dari kebiasaan-kebiasaan sederhana. Bergerak, berolahraga, berlari. Tidak harus selalu kompetitif, yang terpenting dilakukan dengan gembira, disiplin dan konsisten,” kata Hasto.
Budaya Hidup Sehat dan Karakter Generasi Muda
Menurut Hasto, budaya hidup sehat memiliki makna lebih luas daripada sekadar menjaga kebugaran tubuh. Masyarakat yang sehat merupakan salah satu fondasi penting untuk membangun sumber daya manusia dan masa depan bangsa. “Kalau anak-anak muda kita terbiasa hidup sehat, mencintai olahraga, sekaligus belajar disiplin dan sportif, kita sedang membangun kekuatan bangsa dari manusianya,” ujarnya.
Hasto yang dikenal menjadikan olahraga lari sebagai bagian dari aktivitasnya dalam berbagai kunjungan ke daerah itu menilai olahraga juga menjadi ruang untuk membangun karakter generasi muda. Menurutnya, olahraga mengajarkan ketekunan dalam berlatih, kepatuhan terhadap aturan, penghormatan terhadap lawan, serta kemampuan menerima kemenangan dan kekalahan secara sportif.
Pandangan tersebut juga pernah disampaikan Hasto dalam sejumlah kegiatan olahraga, termasuk Soekarno Run di Surabaya dan Banteng Ride and Night Run. Ia menekankan pentingnya sportivitas, kedisiplinan dan budaya berlatih bagi generasi muda.
Sejarah Lapangan THOR dan Peran Olahraga Publik
Pemilihan Lapangan THOR sebagai lokasi lari pagi juga memiliki makna tersendiri. Lapangan yang berada di kawasan Darmo itu memiliki sejarah panjang dalam perjalanan olahraga Kota Surabaya. Nama THOR berasal dari bahasa Belanda, Tot Heil Onze Ribben atau dalam sejumlah catatan disebut Tot Heil Onzer Ribbenkast.
Nama tersebut awalnya merupakan nama klub sepak bola pada masa kolonial yang kemudian melekat pada lapangan. Lapangan THOR dipindahkan ke lokasi sekarang pada 1937 setelah lapangan sebelumnya di kawasan Karang Menjangan digunakan untuk pembangunan kompleks rumah sakit. Seiring waktu, THOR berkembang menjadi salah satu pusat aktivitas atletik di Surabaya.
Setelah direnovasi, lintasan atletiknya diresmikan pada 2017 dengan delapan jalur dan panjang lintasan 400 meter. Kini, THOR menjadi salah satu ruang olahraga publik yang dimanfaatkan warga, atlet dan komunitas pelari Surabaya.
“Tempat ini punya sejarah panjang. Namanya saja menarik, THOR, yang sejak dulu berkaitan dengan olahraga. Hari ini tempat bersejarah ini terus hidup karena dipakai masyarakat, atlet dan anak-anak muda untuk menjaga kesehatan dan mengejar prestasi,” ujar Hasto.
Fasilitas Olahraga yang Semakin Dekat dengan Warga
Hasto berharap ruang-ruang olahraga publik seperti THOR terus dirawat dan semakin banyak dimanfaatkan masyarakat. “Olahraga harus menjadi budaya. Ruang publik yang baik memberi kesempatan kepada siapa saja untuk bergerak, bertemu dan membangun kebiasaan sehat. Kita ingin semakin banyak anak muda yang memilih gaya hidup sehat dan produktif,” katanya.
Kehadiran anak-anak muda Sub Banteng Culture, lanjut Hasto, menunjukkan bahwa aktivitas generasi muda dapat dibangun melalui kegiatan yang ringan, sehat dan menyenangkan. “Anak muda tidak selalu harus bertemu dalam forum yang formal. Bisa berlari bersama, berolahraga bersama, membangun persahabatan dan kegembiraan bersama. Dari tubuh yang sehat lahir energi positif untuk melakukan hal-hal yang produktif,” ujarnya.
Pengembangan Jogging Track di Surabaya
Salah satu pelari Sub Banteng Culture, Eko Wahyono, mengatakan berkembangnya budaya lari di Surabaya perlu diikuti dengan semakin banyaknya fasilitas olahraga publik yang mudah dijangkau warga. Menurut Eko, selain THOR, di sejumlah wilayah Surabaya mulai tersedia jogging track dan ruang publik di sisi sungai yang dimanfaatkan masyarakat untuk berjalan kaki dan berlari.
Fasilitas seperti itu menurutnya perlu diperbanyak dan diperluas ke berbagai wilayah. “Budaya olahraga akan tumbuh lebih cepat kalau masyarakat mudah menemukan tempat yang aman dan nyaman di dekat tempat tinggalnya. Jogging track di sisi-sisi sungai bisa diperbanyak, dan lapangan olahraga di wilayah bisa terus diperbaiki untuk lari, sepak bola maupun aktivitas warga lainnya. Prinsipnya sederhana; fasilitas olahraga harus semakin dekat dengan warga,” kata Cak Ek, sapaan akrabnya.
Ia berharap Pemkot Surabaya semakin aktif memanfaatkan ruang publik, kawasan sepanjang sungai, dan lapangan di permukiman sebagai fasilitas olahraga yang aman dan nyaman. “Kalau di dekat rumah ada jogging track atau lapangan yang layak, anak muda bisa lari, anak-anak bisa bermain, orang tua bisa jalan pagi. Kami berharap fasilitas seperti ini semakin banyak dan merata di seluruh Surabaya. Pemerintah menyediakan ruangnya, kami anak-anak muda ikut menghidupkannya,” ujar Cak Ek.
Rangkaian Kegiatan Hasto di Surabaya
Lari pagi di Lapangan THOR menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Hasto selama berada di Surabaya. Sehari sebelumnya, Minggu (23/8), Hasto mengikuti konsolidasi internal PDI Perjuangan Jawa Timur di Vasa Hotel Surabaya. Konsolidasi tersebut dipimpin Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan diikuti jajaran partai dari Jawa Timur.
Pada Senin malam, Hasto dijadwalkan menghadiri partai final sekaligus penutupan Soekarno Cup 2026 di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Surabaya. Final mempertemukan Banteng Jawa Barat dan Banteng Bali. Soekarno Cup 2026 melibatkan sekitar 400 talenta muda dari 16 provinsi dan digelar sejak 10 Agustus di sejumlah venue di Jawa Timur. Lapangan THOR juga menjadi salah satu venue fase penyisihan turnamen tersebut.
Bagi Hasto, berbagai kegiatan tersebut memiliki benang merah yang sama, yakni pembangunan manusia, khususnya generasi muda, melalui kesehatan, disiplin, kebersamaan dan sportivitas. “Politik pada akhirnya juga harus berbicara tentang kualitas manusia Indonesia. Generasi mudanya harus sehat, kuat, punya daya juang, disiplin dan menjunjung sportivitas. Olahraga adalah salah satu jalan yang sangat baik untuk membangun karakter itu,” pungkas Hasto.






