Penangkapan Terduga Pembunuh DM (48) dalam Waktu 6 Jam
Terduga pembunuh DM (48), seorang satpam di perumahan kawasan Jalan Sukomanunggal Jaya, Surabaya, berhasil ditangkap dalam waktu enam jam setelah korban ditemukan. Terduga berinisial OA, yang merupakan teman kerja sesama penjaga keamanan dengan korban, kini sedang dalam pemeriksaan lebih lanjut oleh pihak kepolisian.
Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Edy Herwiyanto mengatakan bahwa OA diduga melakukan penganiayaan terhadap korban dengan menusuk leher dan dada menggunakan senjata tajam hingga menyebabkan korban meninggal dunia. Pengakuan pelaku serta keterangan saksi, termasuk pencocokan rekaman CCTV dari lokasi kejadian, memperkuat dugaan ini.
“Saat ini dari pengakuan tersangka, dia pelaku tunggal. Setelah dicek CCTV yang ada, dan kemudian keterangan saksi di TKP memang saat itu kondisi sepi tidak ada orang selain korban dan pelaku,” ujar AKBP Edy Herwiyanto di Mapolrestabes Surabaya, pada Senin (11/5/2026).
Motif Masih Dalam Pemeriksaan
Kanit Jatanras Satreskrim Polrestabes Surabaya Iptu Evan Caesar Ibrahim menjelaskan bahwa motif pelaku masih dalam penyelidikan. “Motif tersangka melakukan pembunuhan terhadap korban masih didalami,” tambahnya.
Adi Deden Februadi, adik kandung korban, sempat menduga bahwa sang kakak menjadi korban kebrutalan para perampok atau perampasan harta benda. Namun, barang yang hilang hanya ponsel merek Xiaomi milik korban. Sementara itu, motor, uang dalam dompet, serta barang bawaan korban lainnya masih terdapat di lokasi pos tempat berjaga.
Gelagat Korban Sebelum Tewas
Menurut Adi Deden, korban tidak pernah terlibat permasalahan dengan orang lain. Ia menggambarkan kakaknya sebagai sosok pendiam, tidak neko-neko, dan penyayang keluarga. Setelah pulang dari bekerja sebagai satpam, korban lebih memilih beristirahat atau membantu istri berbelanja kebutuhan toko kelontong.
Akibat insiden tersebut, korban meninggalkan dua anak perempuan yang masih bersekolah. Adi Deden juga mengungkapkan bahwa korban sempat ditemui oleh seorang teman pria di pos jaga beberapa jam sebelum memulai bekerja menjaga perumahan pada sif malam, sekitar pukul 20.00 WIB.
Sosok tersebut juga seorang penjaga keamanan. Para teman sesama satpam sering memberi peringatan kepada korban untuk tidak terlalu akrab berteman dengan sosok ini karena dianggap problematis.
Keanehan Saat Korban Hilang
Adi Deden menduga bahwa pada momen korban diajak oleh sosok tersebut, nyawa sang kakak dihabisi. Jenazah korban diseret hingga ke dalam rumah kosong sejauh 200 meter dari pos jaga satpam. Pelaku diduga berusaha menghapus jejak bekas ceceran darah dengan cara membilas menggunakan alat kain pembersih lantai.
Ade Deden juga mengungkap keanehan saat istri korban memperoleh kabar melalui telepon dari beberapa orang satpam teman kerja sang suami. Padahal, nomor kontak istri korban tidak diketahui oleh teman-teman korban sesama anggota satpam.
Korban Ditemukan Tewas di Pos Jaga
Diberitakan sebelumnya, DM yang warga Krembangan, Surabaya ditemukan tak bernyawa di ruang pos jaga dengan kondisi tubuh terlentang. Korban masih memakai pakaian seragam satpam berwarna kuning muda, bercelana cokelat, dan bersepatu hitam.
Menurut Kapolsek Sukomanunggal Polrestabes Surabaya Kompol M. Akhyar, korban pertama kali ditemukan oleh teman sesama satpam di perumahan tersebut. Saksi teman sesama satpam hendak berganti sif kerja menjaga kompleks perumahan tersebut. Namun, saksi mendapati keanehan karena kondisi penerangan lampu di gerbang depan dan pos satpam masih menyala, padahal fajar sudah menyingsing, pukul 05.00 WIB.
“Dan barang yang diambil, hanya handphone saja. Handphone pribadi korban. Sedangkan sepeda motornya itu bagus, enggak diambil sama kunci kontaknya itu,” ujarnya saat dihubungi TribunJatim.com pada Senin (11/5/2026).
Saksi sempat mencari keberadaan korban di area musala yang lampu penerangannya juga masih menyala. Ternyata, tidak ada. Kemudian, saksi mulai mencari keberadaan korban di dalam pos satpam. Ternyata, korban sudah terkapar dengan penuh luka dan tak sadarkan diri.
“Nah, (temannya) dicek lah ke tempat salat itu, musala kecil di situ karena korban ini memang taat sama agama. Dicek enggak ada, kemudian beralih ke pos security. Lah kok di depannya itu ada bercadak darah. kemudian tidak dilihat ke dalamnya tergeletak korban itu. Baru lapor ke Polisi,” katanya.
Berdasarkan hasil visum luar terhadap tubuh korban, Akhyar mengungkapkan bahwa korban mengalami luka tusuk pada leher, dada, perut, lengan tangan, dan siku tangan. “Leher sebelah kanan. Punggung sebelah kiri. Lengan sebelah kiri belakang. Sikut sebelah kiri. Heem. Dada sebelah kanan. Dan perut sebelah kiri. Itu saja,” ungkapnya.
Kemudian, saat melakukan olah TKP menyeluruh, Akhyar mengatakan bahwa ponsel pribadi korban tidak ditemukan di lokasi. Ataupun di dalam saku pakaian korban. Namun, anehnya, dompet berisi uang serta kendaraan motor korban lengkap beserta surat menyuratnya, masih berada di lokasi. Atau tidak terkonfirmasi hilang.
“Dan barang yang diambil, hanya handphone saja. Handphone pribadi korban. Sedangkan sepeda motornya itu bagus, enggak diambil sama kunci kontaknya itu,” jelasnya.
Akhyar tak menampik, bahwa korban sempat melakukan perlawanan terhadap pelaku dalam pergulatan yang terjadi pada pagi hari tadi. “Kalau dari lihat dari luka korban kelihatannya ada perlawanan, karena nangkis, nah iya (nangkis pakai siku atau lengan). Kami belum temukan info tersebut (soal korban pernah cekcok dengan orang lain),” ungkapnya.






