Syarat Baru dalam Perundingan Damai Iran-AS
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah menambahkan syarat baru dalam perundingan damai antara AS dan Iran. Dalam upaya untuk mencapai kesepakatan yang lebih luas, Trump meminta negara-negara Timur Tengah, termasuk Iran, untuk bergabung dalam Perjanjian Abraham sebagai bagian dari kesepakatan apa pun.
Perjanjian Abraham adalah serangkaian kesepakatan yang dimediasi oleh AS, di mana beberapa negara mayoritas Muslim setuju untuk menormalisasi hubungan diplomatik dengan Israel. Perjanjian ini pertama kali ditandatangani pada tahun 2020, selama masa jabatan pertama Trump. Uni Emirat Arab dan Bahrain menandatangani perjanjian tersebut pada saat itu, kemudian disusul oleh Maroko, Sudan, dan Kazakhstan.
Trump mengatakan bahwa semua negara seharusnya wajib menandatangani Perjanjian Abraham. Ia menyebut Arab Saudi dan Qatar sebagai negara yang harus bergerak lebih dulu. Pada 2025, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman mengatakan kepada Trump bahwa kerajaan tersebut terbuka untuk bergabung dengan Perjanjian Abraham, selama ada jalan yang jelas menuju solusi dua negara antara Israel dan Palestina.
Trump juga memperluas undangan tersebut kepada Iran apabila negara itu mencapai kesepakatan dengan AS. Ia menyatakan bahwa jika Iran menandatangani perjanjiannya dengan dirinya sebagai Presiden Amerika Serikat, akan menjadi suatu kehormatan bagi dirinya untuk menjadikan mereka juga bagian dari koalisi dunia yang tak tertandingi ini.
Ia juga memperingatkan, “Hanya akan ada kesepakatan besar untuk semua atau tidak ada kesepakatan sama sekali, kembali ke medan perang dan baku tembak, tetapi lebih besar dan lebih kuat dari sebelumnya, dan tidak ada yang menginginkan itu.”
Empat Isu Utama dalam Perundingan Damai
Sejumlah isu masih menjadi perdebatan dalam perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Berikut adalah empat isu utama yang masih menjadi perdebatan:
Nuklir
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan bahwa isu nuklir bukan bagian dari kerangka kerja awal. Isu tersebut akan dibahas secara terpisah di kemudian hari. Namun, The New York Times, mengutip dua pejabat Amerika yang tidak disebutkan namanya, mengatakan bahwa elemen kunci dari kesepakatan yang diusulkan adalah komitmen nyata Iran untuk melepaskan persediaan uranium yang diperkaya tinggi.Selat Hormuz
Isu utama lainnya dalam pembicaraan tersebut adalah lalu lintas di Selat Hormuz, jalur vital global untuk pengiriman minyak yang berada di bawah kendali Iran sejak pecahnya perang. Iran bersikeras bahwa kapal harus mendapatkan izin dari angkatan bersenjatanya. Trump mengatakan bahwa selain banyak elemen lain dalam perjanjian tersebut, Selat Hormuz akan dibuka.Aset dan Sanksi
Iran telah lama menuntut pembebasan aset-asetnya yang dibekukan akibat sanksi AS. Menurut Tasnim, Iran bersikeras bahwa setiap kesepakatan awal harus disertai setidaknya akses sebagian terhadap aset-aset tersebut. Mekanisme yang jelas juga harus ditetapkan untuk menjamin pembebasan berkelanjutan atas seluruh dana yang diblokir.Lebanon
Israel terus melakukan serangan harian di Lebanon meskipun terdapat gencatan senjata yang dimediasi AS, dengan alasan serangan tersebut menargetkan Hizbullah. Iran sebelumnya mengatakan bahwa gencatan senjata apa pun harus berlaku untuk seluruh front perang regional, termasuk Lebanon.
Perkembangan Terbaru dalam Perundingan
Dalam unggahan panjang di Truth Social pada Senin (25/5/2026), Trump mengatakan bahwa ia telah berbicara dengan para pemimpin Arab Saudi, UEA, Qatar, Pakistan, Turki, Mesir, Yordania, dan Bahrain. Ia mengatakan bahwa, mengingat semua upaya yang telah dilakukan AS untuk mencoba menyelesaikan situasi rumit tersebut, semua negara itu seharusnya wajib menandatangani Perjanjian Abraham.
“Kesepakatan Abraham telah terbukti, bagi negara-negara yang terlibat (Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko, Sudan, dan Kazakhstan), sebagai sebuah kebangkitan finansial, ekonomi, dan sosial, bahkan selama masa konflik dan perang ini, dengan para anggota saat ini bahkan tidak pernah menyarankan untuk keluar atau mengambil jeda sedikit pun,” kata Trump.
Ia menyebut Arab Saudi dan Qatar sebagai negara yang harus bergerak lebih dulu. Pada 2025, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman mengatakan kepada Trump bahwa kerajaan tersebut terbuka untuk bergabung dengan Perjanjian Abraham, selama ada jalan yang jelas menuju solusi dua negara antara Israel dan Palestina.
Trump juga memperluas undangan tersebut kepada Iran apabila negara itu mencapai kesepakatan dengan AS. “Oleh karena itu, saya dengan tegas meminta agar semua negara segera menandatangani Perjanjian Abraham, dan jika Iran menandatangani perjanjiannya dengan saya sebagai Presiden Amerika Serikat, akan menjadi suatu kehormatan bagi saya untuk menjadikan mereka juga bagian dari koalisi dunia yang tak tertandingi ini,” katanya.
Ia juga memperingatkan, “Hanya akan ada kesepakatan besar untuk semua atau tidak ada kesepakatan sama sekali, kembali ke medan perang dan baku tembak, tetapi lebih besar dan lebih kuat dari sebelumnya, dan tidak ada yang menginginkan itu.”







