Kehidupan di Tengah Zona Perang
Kapten Hassan Khan, seorang pelaut asal Pakistan, menggambarkan situasi yang sedang dialaminya dengan kata-kata yang menunjukkan kecemasan dan ketidakpastian. “Benar-benar aneh bahwa segala sesuatu terlihat normal di luar, tetapi orang-orang di dalam tidak tenang,” katanya. Ia dan 20.000 pelaut lainnya telah terjebak di Selat Hormuz selama tiga bulan akibat konflik antara AS-Israel dengan Iran.
Selat Hormuz, yang dulu menjadi jalur pelayaran tersibuk di dunia, kini menjadi tempat yang sunyi dan penuh bahaya. Rudal melintas di angkasa, ranjau ditanam di bawah permukaan laut, dan segalanya berubah dari biasa menjadi ancaman nyata. Meskipun demikian, awak kapal Khan masih mencoba menjalani rutinitas seperti biasa—meski candaan telah bergeser menjadi keheningan yang dipenuhi rasa cemas.
Pasokan Menipis dan Harga Meningkat
Tanpa ancaman rudal dan ranjau, sebanyak 1.600 kapal terjebak di Selat Hormuz. Iran menutup jalur air sempit itu setelah perang dimulai, sehingga hanya satu jalan keluar yang tersisa—yaitu Selat Hormuz. Kapten Shafiqul Islam, seorang pelaut Bangladesh, menggambarkan situasi ini sebagai “seperti terjebak di sebuah kolam”.
Islam dan rekan-rekannya telah dua kali mencoba keluar dari Selat Hormuz, tetapi semuanya gagal. Setelah gencatan senjata pada 8 April, mereka mendengar bahwa kapal lain telah diberi izin oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) untuk melintas. Namun, keputusan tersebut dibatalkan setelah AS mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran.
Pasokan makanan dan air kini menjadi masalah yang semakin mendesak. Di antara semua kebutuhan pokok, harga air meningkat drastis. “Kami membeli sekitar 180 ton air untuk kapal dua hari lalu. Sebelumnya biayanya antara US$1.500 dan US$2.000. Sekarang biayanya menjadi US$11.000,” kata Rashedul Hasan, kepala kamar mesin kapal Banglar Joyjatra.
Kematian dan Diplomasi
Meski situasi begitu menegangkan, beberapa pelaut masih merasa beruntung. Kapten Islam menyaksikan serangan Iran terhadap Pelabuhan Jebel Ali di Dubai, yang berjarak hanya 200 meter dari kapalnya. Sejak saat itu, ia dan 30 awaknya telah kehilangan hitungan berapa banyak serangan yang mereka saksikan.
Setidaknya 11 pelaut telah tewas dalam 39 insiden terverifikasi, menurut Organisasi Maritim Internasional (IMO). Ketegangan sempat mereda setelah gencatan senjata, tetapi aktivitas militer di Selat Hormuz tetap menjadi pengingat akan rapuhnya situasi.
Pemangkasan Biaya Tenaga Kerja
Perusahaan pelayaran mulai menghadapi kerugian besar akibat konflik ini. Banyak perusahaan menawarkan gaji lebih tinggi dan tunjangan tambahan agar pelaut tetap bertahan. Namun, kini mereka memberi tahu staf bahwa siapa pun yang ingin pergi dapat melakukannya, sambil mengurangi gaji dan tunjangan.
Banyak kontrak pelaut telah berakhir dan rotasi awak skala besar sudah seharusnya dilakukan. Namun, akan sulit menemukan cukup tenaga untuk mengoperasikan kapal-kapal ini—bahkan setelah perang berakhir.
Harapan untuk Keluar
Beberapa kapal berhasil melintas, terutama yang berasal dari China, India, dan Pakistan. Mereka tampaknya mengandalkan diplomasi langsung dengan Iran, termasuk membayar biaya beberapa juta dolar per kapal.
Diplomasi kini menjadi harapan terbaik bagi Banglar Joyjatra. Pemerintah Bangladesh bekerja sama dengan pemiliknya, Bangladesh Shipping Corporation (BSC), agar kapal itu bisa bertolak dari Selat Hormuz. Namun, hal itu juga terbukti sulit karena ancaman sanksi dari AS.
Harapan dan Keputusan yang Belum Jelas
Masood, sang koki, mulai mempertimbangkan kembali kariernya sebagai pelaut. Kontraknya tinggal satu bulan lagi. Ia hanya berharap dapat kembali ke Pakistan dan membawa hadiah dari Dubai untuk keluarganya: boneka Barbie untuk putrinya dan pesawat mainan untuk putranya.
“Setiap hari keluarga saya bertanya kapan saya akan kembali, tetapi saya tidak punya jawaban untuk mereka,” katanya. Ia khawatir akses ke jalur pelayaran internasional akan menjadi alat dalam konflik di masa depan.





