Penunjukan Luke Thomas Mahony sebagai Dirut PT DSI
Luke Thomas Mahony, seorang warga negara Australia, ditunjuk sebagai Direktur Utama (Dirut) PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). PT DSI adalah perusahaan badan usaha milik negara (BUMN) baru yang dibentuk untuk mengelola ekspor sumber daya alam (SDA) strategis Indonesia melalui satu pintu. Penunjukan ini menarik perhatian publik karena posisi Dirut yang sangat penting bagi devisa dan industri nasional justru diserahkan kepada pihak asing.
Pengalaman Luke di perdagangan komoditas global, khususnya sektor mineral dan ekspor, menjadi alasan utama penunjukan tersebut. Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai Direktur sekaligus Chief Strategy and Technical Officer di PT Vale Indonesia Tbk. Pengalaman ini memberinya pemahaman mendalam tentang operasi pertambangan dan strategi bisnis yang relevan dengan tugasnya di PT DSI.
Alasan Penunjukan WNA Jadi Dirut DSI
Menteri Investasi/Kepala BKPM sekaligus CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani, menjelaskan bahwa penunjukan Luke Thomas Mahony didasarkan pada track record dan pemahamannya dalam bidang perdagangan komoditas. Ia juga menyebut pengalaman di perusahaan multinasional seperti Vale sebagai faktor penting dalam memperkuat kinerja ekspor nasional di pasar internasional.
Rosan menekankan bahwa kemampuan adaptasi Luke, termasuk penguasaan bahasa Indonesia serta jejaring bisnis global, menjadi nilai tambah. Selain itu, kehadiran Luke di lingkungan Danantara sebelumnya sebagai Senior Executive Vice President (SEVP) Business Performance & Optimization sejak September 2025 juga menjadi dasar penunjukan ini.
Rekam Jejak Karier Luke Thomas Mahony
Luke Thomas Mahony bukan sosok asing di industri pertambangan global. Pengalamannya lebih dari dua dekade di sektor tambang dan manajemen strategis membuatnya memiliki latar belakang yang kuat. Berikut adalah beberapa posisi penting yang pernah ia tempati:
Danantara Indonesia
Sejak September 2025, Luke menjabat sebagai Senior Executive Vice President (SEVP) Business Performance & Optimization. Posisi ini membuatnya terlibat langsung dalam perencanaan strategis perusahaan investasi dan pengelolaan aset negara.PT Vale Indonesia Tbk
Pada periode Juli 2024 hingga September 2025, Luke menjabat sebagai Chief Strategy and Technical Officer. Perusahaan ini merupakan pemain besar dalam industri nikel nasional.Vale Base Metals Kanada
Selama hampir sepuluh tahun (Juli 2014–Agustus 2024), Luke menempati berbagai jabatan penting, termasuk Chief Technical Officer. Pengalaman ini menunjukkan kemampuannya dalam manajemen perusahaan global.BHP Billiton
Sebelum bergabung dengan Vale, Luke bekerja di BHP Billiton selama empat tahun (Juli 2010–Juli 2014) dengan jabatan seperti Principal Business Analyst dan Manager Production Prestrip. Pengalaman ini dinilai sangat berharga karena standar tinggi perusahaan ini dalam tata kelola industri pertambangan dunia.
Latar Pendidikan Luke Thomas Mahony
Selain pengalaman profesional yang luas, Luke juga memiliki latar pendidikan yang sangat dekat dengan industri yang digelutinya. Ia menempuh pendidikan di University of New South Wales, Australia. Riwayat pendidikannya meliputi:
- Sarjana: Mining Engineering (Teknik Pertambangan)
- Magister Keuangan (2004)
- Magister Teknik Pertambangan (2006)
- Magister Geomekanika (2009)
Kombinasi pendidikan ini memberikan kemampuan yang relatif lengkap, baik dalam teknik pertambangan maupun keuangan. Pengalaman internasional selama lebih dari dua dekade akan diuji untuk menjawab tantangan pengelolaan SDA Indonesia yang semakin kompleks.
Kritik dan Harapan Masyarakat
Anggota Komisi VI DPR RI, Mufti Anam, meminta pemerintah memberikan batas waktu yang jelas terkait kepemimpinan WNA di posisi Dirut PT DSI. Meski mempertanyakan figur WNA, Mufti mencoba melihat kebijakan tersebut secara objektif. Ia menilai langkah Presiden Prabowo Subianto ini merupakan upaya serius untuk membenahi praktik under-invoicing yang selama ini merugikan negara.
Mufti menjelaskan bahwa kehadiran profesional asing mungkin menjadi pilihan pahit yang diambil pemerintah demi memastikan sistem yang bersih dan profesional. Namun, ia menegaskan bahwa ketergantungan pada tenaga asing dalam mengelola kekayaan alam tidak boleh berlangsung lama. Mufti meminta posisi tersebut segera dikembalikan kepada anak bangsa setelah fondasi tata kelola ekspor Indonesia sudah kuat.
Peran PT DSI di Masa Depan
Ke depan, DSI akan menjadi eksportir tunggal Indonesia. Badan tersebut statusnya BUMN di bawah Danantara. Presiden Prabowo dalam rapat paripurna di DPR 20 Mei lalu menyebutkan bahwa pembentukan badan tersebut untuk mengoptimalkan penerimaan negara. Selain itu, untuk memperkuat pengawasan ekspor sekaligus menghilangkan praktik kurang bayar ekspor, transfer pricing, hingga pelarian devisa hasil ekspor.
Dengan kombinasi pengalaman internasional, kemampuan teknis, dan latar akademik di sektor tambang, Luke kini menghadapi tantangan baru memimpin BUMN yang diproyeksikan menjadi instrumen penting dalam memperkuat posisi Indonesia di perdagangan komoditas global. Kehadirannya di pucuk pimpinan PT DSI juga menjadi perhatian karena perusahaan tersebut diproyeksikan memainkan peran strategis dalam pengelolaan ekspor SDA nasional di masa mendatang.







