Peristiwa Tragis di Lombok Barat
Sebuah peristiwa tragis terjadi di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Seorang pria berinisial S (38 tahun) dilaporkan tewas setelah menjadi korban amukan massa yang menuduhnya mencuri alat menanak nasi. Kejadian ini memicu reaksi publik yang sangat mengkhawatirkan dan mengundang banyak pertanyaan tentang proses hukum dan keadilan.
Korban dituduh melakukan pencurian, namun keluarga dan warga setempat menyatakan bahwa tidak ada barang bukti yang ditemukan. Mereka menuntut agar kasus ini diproses secara hukum dan tidak hanya dianggap sebagai tindakan main hakim sendiri. Penganiayaan tersebut bahkan terekam dalam video yang kini viral di media sosial, menunjukkan betapa brutalnya aksi massa terhadap korban.
Video Penganiayaan Viral
Video penganiayaan itu menampilkan warga yang berteriak dan mengejar korban yang saat itu berada di luar perumahan. S berusaha menyelamatkan diri dan terjebak di sungai kecil, di mana ia akhirnya diserang dan mengalami luka serius pada bagian kepala. Aksi ini menunjukkan betapa tidak adilnya tindakan yang dilakukan oleh sekelompok orang tanpa melalui proses hukum yang benar.
Menurut informasi yang diperoleh, S sebelumnya berpamitan kepada anaknya untuk membeli ikan dan berencana bakar ikan di rumah. Namun, sebelum bisa membawa ikan, kabar buruk datang kepada keluarganya. Penganiayaan yang terjadi menyebabkan luka serius pada ayah Supriadi, sehingga S harus dibawa ke rumah sakit, tetapi nyawanya tidak tertolong.
Keluarga Meminta Pendampingan Hukum
Anak korban, Supriadi, menyampaikan rasa kekecewaannya atas tindakan main hakim sendiri yang dilakukan oleh massa. Ia menegaskan bahwa mereka meminta pendampingan hukum dari Badan Konsultasi dan Bantuan Hukum (BKBH) Universitas Mataram agar kasus ini dapat diproses secara adil.
“Kami hanya ingin kasus ini diproses secara hukum, saya cuma minta keadilan untuk bapak saya, dan hukuman seberat beratnya pada pelaku yang menganiaya bapak saya hingga meninggal dunia,” ujarnya dengan suara bergetar.
Supriadi juga menyampaikan bahwa adiknya masih duduk di kelas 4 Sekolah Dasar dan masih membutuhkan perhatian. Ia sangat menyayangkan tindakan yang dilakukan oleh massa karena dinilai terlalu brutal dan tidak sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku.
Tanggapan dari Warga dan Pihak Berwenang
Warga Karang Bongkot, salah satu desa di Lombok Barat, juga menyatakan keberatan atas penganiayaan yang terjadi. Mereka menilai bahwa tuduhan tanpa bukti tidak seharusnya mengakibatkan kematian seseorang. Bahkan, S dikabarkan sering membantu warga, sehingga tindakan yang dilakukan oleh massa dinilai sangat tidak proporsional.
Pihak kepolisian masih menyelidiki kasus ini dan menjaga situasi tetap kondusif. Kepala Desa Karang Bongkot, Muldan, menyampaikan harapan agar proses hukum dilakukan sesuai dengan rasa keadilan. Ia juga mengungkapkan bahwa aparat belum melakukan pemeriksaan terhadap siapa pun meskipun laporan sudah diterima dan otopsi telah dilakukan.
Menurut Muldan, kemungkinan besar aparat masih fokus pada pengamanan di wilayah perumahan karena suasana masih mencekam. Isu akan ada serangan balasan dari warga pada pelaku penganiayaan membuat beberapa penghuni kompleks dievakuasi.
Penutup
Peristiwa ini menjadi peringatan penting bagi masyarakat tentang pentingnya proses hukum yang adil dan transparan. Tindakan main hakim sendiri tidak boleh lagi terjadi, terlebih jika mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang. Dengan pendampingan hukum yang tepat, diharapkan keadilan dapat ditegakkan dan mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan.







