Penolakan Trump terhadap Proposal Damai Iran
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menolak proposal damai 14 poin yang diajukan oleh Iran. Proposal tersebut mencakup penghentian perang, pembekuan nuklir, dan dialog regional. Menurut Trump, tawaran tersebut tidak memenuhi ekspektasinya, khususnya dalam hal isu nuklir. Penolakan ini mengurangi peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat.
Dalam pernyataannya kepada media Israel, Trump menyatakan bahwa ia telah mempelajari proposal tersebut secara menyeluruh, namun tetap tidak puas. Ia menegaskan bahwa tawaran dari Iran belum cukup memuaskan. “Saya sudah mempelajarinya, saya sudah mempelajari semuanya — itu tidak bisa diterima,” ujarnya.
Proposal Iran sendiri mencakup peta jalan tiga tahap untuk mengakhiri konflik dalam waktu 30 hari. Tahap pertama berfokus pada penghentian total permusuhan, termasuk di wilayah Lebanon, serta pembukaan kembali jalur strategis Selat Hormuz. Tahap kedua menawarkan pembekuan pengayaan uranium selama 15 tahun, dengan syarat Iran tetap mempertahankan infrastruktur nuklirnya. Sementara tahap ketiga mengarah pada dialog keamanan regional yang melibatkan negara-negara Arab.
Namun, Amerika Serikat menilai proposal tersebut belum cukup tegas, terutama terkait isu nuklir. Washington menginginkan pembatasan yang lebih ketat dan verifikasi lebih awal dalam setiap kesepakatan.
Perbedaan Pendapat antara AS dan Iran
Iran mengonfirmasi telah menerima respons dari AS melalui Pakistan dan saat ini sedang meninjau isi tanggapan tersebut. Ketegangan ini juga berdampak pada stabilitas ekonomi global, terutama karena gangguan di Selat Hormuz yang merupakan jalur utama distribusi minyak dunia.
Trump bahkan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer jika negosiasi gagal mencapai titik temu. “Jika mereka bertindak tidak semestinya, jika mereka melakukan hal buruk, itu bisa saja terjadi,” tegasnya.
Hingga kini, meskipun sempat terjadi jeda dalam operasi militer besar dan pembicaraan awal telah dilakukan, proses diplomasi masih menghadapi jalan buntu. Perbedaan mendasar antara kedua pihak, terutama terkait urutan penyelesaian isu militer dan nuklir, menjadi hambatan utama dalam mencapai perdamaian yang berkelanjutan.
Persyaratan Iran dalam Proposal 14 Poin
Sebelumnya, Iran telah mengajukan proposal balasan berisi 14 poin kepada Amerika Serikat (AS) yang menyerukan penghentian pertempuran secara permanen dan penarikan penuh pasukan AS dari kawasan tersebut. Langkah ini merupakan respons atas proposal sebelumnya dari Washington yang berisi sembilan poin.
Dalam usulannya, Teheran mendorong penyelesaian konflik dalam waktu 30 hari, berbeda dengan tawaran AS yang mengusulkan gencatan senjata selama dua bulan. Iran menegaskan bahwa pembicaraan seharusnya difokuskan pada pengakhiran perang secara menyeluruh, bukan sekadar penghentian sementara.
Tuntutan utama Iran mencakup penarikan pasukan AS dari wilayah dekat perbatasannya, jaminan tidak adanya agresi lanjutan, serta sejumlah langkah ekonomi. Di antaranya adalah pencabutan blokade angkatan laut, pelepasan aset Iran yang dibekukan, pelonggaran sanksi, hingga pembayaran kompensasi.
Selain itu, proposal tersebut juga menyerukan penghentian pertempuran di berbagai front, termasuk di Lebanon, serta pembentukan mekanisme tata kelola baru untuk Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi minyak dunia.
Konflik yang Berawal dari Serangan Gabungan
Menurut laporan yang sama, Iran saat ini masih menunggu tanggapan resmi dari pemerintah AS. Media pemerintah Iran menyebutkan bahwa proposal tersebut telah disampaikan pada 28 April 2026 melalui jalur diplomatik tidak langsung.
Konflik ini sebelumnya dipicu oleh serangan gabungan antara AS dan Israel pada 28 Februari yang menargetkan Teheran dan sejumlah kota lainnya. Serangan tersebut menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, serta sejumlah pejabat militer dan warga sipil.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangkaian serangan rudal dan drone yang menyasar wilayah Israel serta kepentingan AS di Timur Tengah. Meski gencatan senjata sempat diberlakukan pada 8 April, perundingan lanjutan di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan.
Hingga kini, proses diplomasi masih berlangsung, dengan perbedaan kepentingan dan tuntutan kedua pihak menjadi tantangan utama dalam mencapai perdamaian jangka panjang di kawasan.





