Kembali Berjuang, Saif Abukeshek Siap Lanjutkan Misi Global Sumud Flotilla
Saif Abukeshek, seorang pemimpin pelayaran Global Sumud Flotilla (GSF) 2026, akan kembali melanjutkan misi untuk menembus blokade Gaza, Palestina melalui Turki. Saif menegaskan bahwa ia tidak akan mengurangi intensitas perjuangan sipil demi memastikan terbukanya jalur bantuan kemanusian bagi masyarakat Gaza yang masih dalam penjajahan dan genosida rezim Zionis Israel.
Setelah tiba di Barcelona, Spanyol, pada hari Ahad (10/5/2026), Saif menyampaikan bahwa tujuan utamanya adalah untuk menyiapkan koper dan kembali bergabung dengan rekan-rekannya yang telah menunggu di Turki. Ia menjelaskan bahwa kehadirannya di Spanyol hanya sementara, sebagai bagian dari persiapan menuju aksi kemanusian berikutnya.
Pengalaman Penderitaan Saif Akibat Penawanan oleh Zionis Israel
Saif dideportasi ke Yunani setelah menjalani penawanan oleh rezim penjajahan di Tanah Palestina selama hampir dua minggu. Selama masa penawanan tersebut, ia mengalami berbagai penyiksaan fisik dan psikologis, termasuk ancaman pembunuhan serta ancaman hukuman penjara selama 100 tahun. Penawanan ini terjadi setelah tentara zionis melakukan serangan dan penculikan terhadap 22 kapal armada kemanusian Global Sumud Flotilla saat melintasi perairan internasional dekat Pulau Kreta, Yunani, pada Rabu (29/4/2026).
Sebanyak 178 relawan dan aktivis kemanusian yang ikut dalam pelayaran itu juga mengalami penculikan dan kekerasan di atas kapal saat serangan terjadi. Saif, sebagai salah satu pemimpin pelayaran, bersama rekannya Thiago Avila, ditawan oleh tentara zionis dan dibawa ke tanah penjajahan di Palestina untuk ditahan dan diinterogasi setiap hari selama delapan jam. Mereka dirantai pada bagian kaki dan dituduh melakukan perbuatan perbantuan terhadap terorisme serta membantu musuh zionis.
Selama dalam penawanan, Saif dan Thiago tidak diberi kesempatan untuk tidur karena sel mereka terang benderang dan memiliki suhu udara dingin. Mereka bahkan melakukan mogok makan dan minum selama masa penawanan. Akhirnya, pada hari Ahad (10/5/2026), kedua aktivis kemanusian itu dilepaskan setelah tekanan internasional masif menuntut pelepasan mereka.
Pengalaman yang Menginspirasi Perjuangan Saif
Setelah dilepaskan, Saif dideportasi ke Spanyol berdasarkan paspor, sedangkan Thiago dideportasi ke Brasil melalui jalur darat ke Mesir. Saif menyampaikan bahwa pengalamannya selama penculikan dan penawanan lebih baik ketimbang nasib yang dialami masyarakat di Palestina, khususnya di Gaza. Ia menekankan bahwa penderitaan masyarakat Palestina akibat penjajahan Zionis Israel patut diperjuangkan sampai tuntas.
“Kami ingin agar dunia melihat apa yang terjadi di Palestina, yang jauh mengalami hal-hal yang buruk dari apa yang kami alami,” ujar Saif. Selama dalam tahanan, ia semakin memahami bahwa penderitaan warga Palestina yang dipenjara jauh lebih buruk lagi. “Mereka dibiarkan dalam penyiksaan terus menerus tanpa perlindungan, diperkosa selama dalam tahanan,” tambahnya.
Persiapan Misi Kemanusian di Marmaris, Turki
Di Marmaris, Turki, persiapan misi Global Sumud Flotilla untuk berlayar menembus blokade Gaza masih terus dilakukan. Saat ini, di Dermaga Albatros, Marmaris sudah terdapat sedikitnya 57 kapal-kapal kemanusian Global Sumud Flotilla yang akan melanjutkan misi membawa bantuan kemanusian untuk warga Gaza. Sekitar 500 aktivis dan relawan dari sedikitnya 40 negara sudah berkumpul menunggu kapan pelayaran akan kembali dilanjutkan.
Para relawan dan aktivis yang akan melanjutkan pelayaran dari Marmaris telah memuat logistik bantuan ke kapal-kapal yang akan berlayar. Diperkirakan pelayaran lanjutan akan ditentukan pada 13 Mei mendatang. Dari Indonesia, sedikitnya enam perwakilan dari Global Peace Convoy Indonesia rencananya bakal ikut berlayar menembus blokade Gaza.






