Putusan Bebas Junaedi Saibih: Keadilan yang Dinantikan
Pada hari Selasa (3/3/2026), majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat mengumumkan putusan bebas bagi Junaedi Saibih dari segala dakwaan dan tuntutan JPU. Keputusan ini menjadi langkah penting dalam kasus dugaan suap terkait vonis lepas korupsi ekspor minyak sawit mentah korporasi.
Penjelasan Putusan Hakim
Majelis hakim menyatakan bahwa Junaedi Saibih tidak terbukti bersalah melakukan tindak pidana suap. Dalam amar putusan, ketua majelis hakim Efendi menyampaikan bahwa Junaedi tidak terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah sebagaimana didakwakan dalam beberapa alternatif dakwaan. Hal ini menunjukkan bahwa penyidik gagal membuktikan keterlibatan Junaedi dalam tindakan suap tersebut.
Selain itu, majelis hakim juga menyatakan bahwa Junaedi tidak pernah ke Singapura untuk rapat dengan Wilmar Group Singapura selaku pihak prinsipal. Hal ini menjadi salah satu alasan utama dalam pembebasannya.
Reaksi Keluarga dan Pihak Terkait
Putusan bebas ini langsung membuat Junaedi Saibih merasa lega. Ia lalu melakukan sujud syukur di ruang sidang. Sementara itu, keluarganya juga tampak sangat bahagia. Hadi Saibih, ayah dari Junaedi, terlihat menangis di bangku pengunjung persidangan. Susi Purwosari Saibih, kakak Junaedi, serta Cucu Asmawati, istri Junaedi, juga menangis karena rasa bahagia.
Cucu Asmawati mengungkapkan rasa syukurnya setelah putusan tersebut. “Alhamdulillah, masih ada keadilan,” ujarnya kepada Tribunnews.
Latar Belakang Profesional dan Akademik
Junaedi Saibih, S.H., M.Si., LL.M. adalah seorang advokat sekaligus akademisi hukum. Ia merupakan dosen tetap Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH-UI) pada Bidang Studi Hukum Acara. Lahir di Jakarta pada 12 Juni 1979, Junaedi menyelesaikan pendidikan S-1 di FH-UI pada September 2001.
Sejak tingkat akhir, ia mendirikan Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia (MaPPI) pada 27 Oktober 2000. Pada 2005, ia menyelesaikan studi Kajian Wilayah Eropa pada Program Pascasarjana UI, dengan gelar Magister Sains. Tahun 2007–2008, ia melanjutkan studi Master of Laws (LLM Program) pada University of Canberra dengan dukungan beasiswa dari Australian Development Scholarship Awards.
Selain itu, Junaedi juga aktif dalam berbagai program akademik internasional, seperti Summer University Program di Central European University (CEU), Budapest, Hungaria, serta Research Fellows di Asian Law Institute di National University of Singapore (NUS).
Kronologi Kasus Hukum
Dalam perkara ini, Junaedi Saibih ditersangkakan dalam kasus dugaan perintangan penyidikan perkara korupsi di PN Jakarta Pusat. Pada tahun 2026 (3 Maret), ia divonis bebas oleh Majelis Hakim Tipikor Jakarta dalam perkara dugaan suap terkait ekspor Crude Palm Oil (CPO/minyak goreng) dan dugaan obstruction of justice (perintangan penyidikan).
Hakim menilai bahwa tidak ada bukti “meeting of mind” dalam dugaan suap, dan tindakan Junaedi dianggap sebagai pembelaan nonlitigasi terhadap klien.
Dakwaan Junaedi Saibih dan Tersangka Lainnya
Advokat Marcella Santoso didakwa memberikan suap senilai Rp 40 miliar kepada majelis hakim agar menjatuhkan vonis lepas atau ontslag terhadap tiga terdakwa korporasi dalam perkara korupsi ekspor crude palm oil (CPO). Ketiga korporasi tersebut adalah Wilmar Group, Permata Hijau Group, dan Musimas Group.
Selain Marcella, dakwaan juga berlaku untuk tiga terdakwa lainnya yakni dua pengacara Ariyanto Bakri dan Junaedi Saibih serta Social Security License Wilmar Group Muhammad Syafei.
Jaksa menyebut bahwa uang suap senilai Rp40 miliar itu diberikan Marcella melalui Muhammad Arif Nuryanta selaku Wakil Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan Wahyu Gunawan selaku Panitera Muda Perdata Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Uang tersebut kemudian dibagikan oleh Arif Nuryanta kepada tiga majelis hakim yang mengadili perkara ekspor CPO tersebut.
Selain didakwa kasus suap, Marcella, Ariyanto, dan Syafei juga didakwa melakukan tindak pencucian uang (TPPU).







