Pasar Ramadan di Surabaya: Tantangan dan Kerugian yang Menghiasi Kebiasaan
Pasar Ramadan di Lapangan Kodam V/Brawijaya, Surabaya, Jawa Timur, menjadi salah satu tempat yang paling ramai selama bulan suci ini. Ratusan lapak pedagang berdiri memadati area tersebut, menawarkan berbagai jenis makanan dan minuman, mulai dari camilan hingga hidangan utama. Tak hanya itu, pasar ini juga menyediakan pakaian dan pernak-pernik yang menarik perhatian pengunjung.
Dari jarak beberapa meter saja, aroma beragam hidangan yang baru dimasak tercium menyambut setiap pengunjung yang datang. Detak riuh pedagang yang berteriak saling menawarkan dagangannya, serta ribuan pembeli yang menyerbu tiap hidangan yang ingin dibeli. Suasana ini mencerminkan semaraknya suasana Ramadan di kota Surabaya.
Cerita Alda: Penjual Telur Gulung yang Terus Berjuang
Di pinggir ujung kanan dan kiri bazar takjil, terdapat puluhan pedagang pakaian dan aksesoris. Di sudut lokasi dalam Kodam Brawijaya, terdapat sebuah lapak yang diisi oleh Alda, penjual sempol dan telur gulung. Alda (32 tahun) mengaku beberapa hari terakhir ia harus menutup lebih awal dagangannya karena hujan deras.
“Sebenarnya tutupnya jam 10.00 WIB kalau weekend sampai jam 11.00 WIB, tapi kita juga ngelihat mood alam, bisa jadi tutupnya lebih awal,” ungkap Alda. Hal itu menyebabkan beberapa kali ia mengalami kerugian.
“Kalau kita belum bayar listrik, enggak rugi. Tapi kalau sudah bayar listrik. Kadang kan kita sudah bayar full, ternyata jam 21.30 WIB sudah tutup,” jelasnya. Alda menerangkan, puncak keramaian pengunjung biasanya akan terjadi pada dua minggu terakhir Ramadhan.
Meskipun begitu, jumlah tersebut terus mengalami penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. “Tiap tahun makin turun (pengunjung) enggak kayak sewaktu sebelum pendemi Covid-19. Pas Covid-19 itu masih ramai, tapi tahun 2023 itu sudah menurun terus sampai sekarang,” terangnya.
Persaingan yang Semakin Ketat
Sebab, semakin meningkatnya jumlah pedagang sehingga memperketat persaingan antar-penjual. “Kalau sekarang dapat Rp 200.000 itu saja susah banget. Kalau sebelum Covid-19 bisa dua, tiga kali lipatnya. Jadi sekarang memang harus lebih kreatif,” tuturnya. Namun, tidak ada banyak pilihan yang bisa dilakukannya. Ibu dari satu anak itu harus tetap bertahan demi menghidupi keluarga kecilnya.
“Mau gimana lagi juga, walaupun tiap bulannya rugi selalu hampir Rp 2 juta, tapi ya saya hanya bisa hidup bantu-bantu keluarga dari ini,” pungkasnya.
Ciri Khas Jajanan Kaki Lima
Telur gulung adalah jajanan kaki lima khas Indonesia yang dibuat dari campuran telur dan sedikit bumbu seperti garam serta penyedap, lalu dikocok dan dituangkan ke dalam minyak panas dalam jumlah banyak. Saat telur mulai matang, penjual akan menggulungnya menggunakan tusuk sate sehingga membentuk gulungan memanjang yang padat di bagian dalam dan sedikit renyah di luar.
Teksturnya lembut namun sedikit crispy, dengan rasa gurih sederhana yang biasanya semakin nikmat setelah diberi saus sambal atau saus manis pedas. Di pasar Ramadan atau war takjil, telur gulung sering menjadi favorit karena harganya terjangkau, dibuat langsung di tempat, dan aromanya yang harum menggoda saat menjelang waktu berbuka puasa.
Sementara itu, sempol adalah jajanan berbahan dasar daging ayam yang dihaluskan dan dicampur tepung tapioka serta bumbu, kemudian dibentuk memanjang pada tusuk sate. Sempol direbus hingga matang, lalu dicelupkan ke dalam kocokan telur dan digoreng sampai bagian luarnya berwarna keemasan. Hasilnya adalah camilan dengan tekstur kenyal di dalam dan sedikit renyah di luar, serta cita rasa gurih yang lebih kuat dibanding telur gulung.
Di pasar Ramadan, sempol kerap disajikan dengan taburan bubuk cabai atau saus pedas manis, menjadikannya camilan praktis dan mengenyangkan yang banyak diburu pembeli sebagai teman berbuka.
Informasi Lengkap tentang Pasar Ramadan
Jika Anda tertarik untuk mengetahui informasi lengkap dan menarik lainnya, kunjungi situs web resmi yang menyediakan berita terkini dan menarik tentang pasar Ramadan di Surabaya.







