Peran Jusuf Kalla dalam Karier Politik Joko Widodo
Jusuf Kalla (JK) kembali menyoroti perannya dalam karier politik Joko Widodo hingga akhirnya menjadi Presiden Republik Indonesia. Pernyataan tersebut muncul dalam sebuah konferensi pers yang diadakan pada Sabtu (18/4/2026), di mana JK menyebutkan istilah “termul” sebagai bagian dari pernyataannya.
Pernyataan ini menimbulkan reaksi dari berbagai pihak, termasuk tokoh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Guntur Romli, seorang politikus PDIP, menanggapi pernyataan JK dengan menyatakan bahwa hal itu memperkuat kesan bahwa Jokowi telah berkhianat kepada pihak-pihak yang berjasa dalam karier politiknya.
Pengakuan JK atas Perannya
Dalam konferensi pers tersebut, JK mengungkapkan perannya yang besar dalam membawa Jokowi ke posisi gubernur DKI Jakarta pada Pilgub DKI Jakarta 2012. Ia menyatakan bahwa ia sendiri yang membawa Jokowi dari Solo ke Jakarta dan mempromosikannya sebagai sosok “orang baik” kepada Megawati Soekarnoputri.
“Siapa yang bawa Jokowi ke Jakarta? Saya yang bawa ke Jakarta dari Solo untuk jadi Gubernur. Saya bawa. Saya ke Ibu Mega, ‘Ibu ini ada calon baik orang PDIP’. (Megawati menjawab) ‘Ah jangan’. Saya datang lagi, akhirnya beliau setuju jadilah Gubernur,” ujar JK.
Selain itu, JK juga menyebut bahwa Jokowi berterima kasih kepadanya karena telah membuatnya menang dalam Pilgub DKI Jakarta 2012. Dengan demikian, ia menegaskan bahwa tanpa jasanya, Jokowi tidak mungkin bisa maju sebagai capres pada Pilpres 2014 dan akhirnya menang.
“Kasih tahu semua itu termul-termul itu, Jokowi jadi Presiden karena saya. Kan tanpa Gubernur mana bisa jadi Presiden?” tegas JK dengan suara lantang.
Tanggapan PDIP
Guntur Romli, yang merupakan anggota PDIP, menegaskan bahwa partainya sudah tidak ingin membahas tentang Jokowi setelah dirinya dipecat. Jokowi dipecat sebagai kader PDIP pada 16 Desember 2024 lalu bersama dengan putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka, serta menantunya yang juga sebagai Gubernur Sumatra Utara (Sumut), Bobby Nasution.
Namun, Guntur mengungkapkan bahwa pernyataan JK bisa diartikan bahwa Jokowi merasa dikhianati oleh pihak-pihak yang pernah membantunya. Menurutnya, PDIP sudah menutup buku dengan Jokowi dan tidak ingin lagi dikaitkan dengannya.
“PDI Perjuangan sudah tutup buku dengan Pak Jokowi, sudah dipecat. Tidak mau lagi membahas dan dikaitkan dengan Jokowi. Tapi kesan dari pernyataan Pak JK, Jokowi itu memang berkhianat dan melukai pada orang-orang yang berjasa besar padanya,” kata Guntur.
Nama-nama yang Dianggap Berjasa
Guntur kemudian menyebutkan nama-nama yang dianggap berjasa dalam karier politik Jokowi selain JK, seperti Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri; Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto; Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung; hingga mantan Ketua DPC PDIP Solo sekaligus eks Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo atau FX Rudy.
Dia menyatakan bahwa seluruh nama tersebut begitu berjasa atas terpilihnya Jokowi sebagai Presiden RI. Bahkan, Guntur menganggap bahwa mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, dan mantan Menteri Perdagangan (Mendag), Tom Lembong turut berjasa kepada Jokowi.
Diketahui, Anies sempat menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) era kepemimpinan Jokowi periode pertama. Selain itu, ia juga menjadi juru bicara tim pemenangan Jokowi-JK dalam Pilpres 2014 lalu. Sementara, Tom Lembong juga menjabat menjadi Mendag di era Jokowi periode pertama.
“Dan tidak hanya ke orang-orang PDI Perjuangan (Jokowi dianggap berkhianat), juga pada Pak Anies Baswedan, dan Pak Tom Lembong, yang semuanya pernah membantu Jokowi,” ujar Guntur.
Penutup
Guntur kembali menegaskan bahwa seluruh nama yang disebutkannya tersebut telah berkontribusi besar dalam karier politik Jokowi. Namun, ia menyatakan bahwa mereka semua berujung dikhianati Jokowi.
“Nama-nama yang saya sebut itu semua berkontribusi besar terhadap karier Jokowi. Tapi apa balasannya? Pengkhianatan dan menyakitkan,” katanya.







