Kondisi Halte Angkutan Umum di Kota Malang
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang, Widjaja Saleh Putra, mengakui bahwa dari total 37 halte yang ada, hampir seluruhnya memerlukan penanganan serius akibat vandalisme dan kerusakan struktural. Meski terkendala keterbatasan anggaran perawatan, pembersihan mulai dilakukan dari halte di Jalan Kertanegara dan akan berlanjut ke kawasan pusat kota.
Selain masalah kebersihan, Dishub juga menyoroti rendahnya pemanfaatan halte oleh warga yang kini lebih bergantung pada kendaraan pribadi. Sebagai bagian dari upaya perawatan infrastruktur transportasi, pembersihan halte dilakukan meskipun dalam kondisi anggaran terbatas.
Inisiatif Komunitas dan Tanggung Jawab Pemerintah
Langkah pembersihan halte dipicu oleh inisiatif komunitas yang sebelumnya melakukan aksi serupa. Namun, Widjaja menegaskan bahwa upaya ini juga merupakan bagian dari tanggung jawab pemerintah dalam merawat fasilitas umum. “Memang kemarin ada komunitas yang bersih-bersih, itu menjadi salah satu pemicu, tapi ini juga bentuk tanggung jawab kami untuk merawat fasilitas yang ada,” ujarnya.
Salah satu titik awal pembersihan dilakukan di halte Jalan Kertanegara yang dipenuhi coretan vandalisme serta tumpukan sampah daun. Widjaja mengungkapkan, dari total 37 halte di Kota Malang, hampir seluruhnya membutuhkan penanganan, baik pembersihan maupun perbaikan. Selain sampah, persoalan vandalisme juga menjadi penyebab kondisi halte terlihat kumuh.
Penanganan Secara Bertahap
Pada tahap awal, Dishub baru melakukan pembersihan satu halte dan akan dilanjutkan secara bertahap, dimulai dari kawasan pusat kota yang memiliki tingkat penggunaan lebih tinggi. “Harapannya nanti berlanjut ke halte lainnya, terutama di tengah kota karena penggunanya lebih banyak,” jelasnya.
Widjaja turut menyebutkan, sejumlah halte dengan kondisi kerusakan struktural, salah satunya berada di kawasan Gadang yang bahkan harus dibongkar, karena dinilai membahayakan. “Di Gadang itu kondisinya sudah parah. Jadi kami bongkar untuk menghindari risiko kecelakaan,” ungkapnya.
Kendala Anggaran dan Kerusakan
Meski secara fisik beberapa halte masih berdiri, Widjaja mengakui banyak rangka bangunan yang sudah keropos, namun perbaikan menyeluruh belum dapat dilakukan karena keterbatasan anggaran. “Harus diakui, membangun itu lebih mudah daripada merawat. Saat ini yang bisa kami lakukan maksimal adalah pembersihan, karena anggaran perawatan masih terbatas,” ujarnya.
Menurut Widjaja, kegiatan bersih-bersih merupakan bagian dari tugas dan fungsi (tusi) Dishub dalam menjaga fasilitas transportasi, yang dilakukan melalui kolaborasi antarbidang di internal dinas.
Pemanfaatan Halte di Masa Kini
Lebih lanjut, Widjaja juga menyoroti rendahnya pemanfaatan halte oleh masyarakat. Widjaja menilai, hal tersebut tidak lepas dari perubahan pola mobilitas warga yang kini lebih bergantung pada kendaraan pribadi. “Kalau masyarakat sudah merasa butuh angkutan umum, halte pasti akan dimanfaatkan. Tapi sekarang angkutan umum masih dianggap pelengkap,” katanya.
Meski demikian, Widjaja melihat halte masih memiliki fungsi, baik sebagai tempat menunggu transportasi maupun sebagai ruang berteduh bagi masyarakat. “Paling tidak sekarang dimanfaatkan secara pasif, misalnya untuk berteduh saat hujan atau panas,” pungkasnya.
Aksi Bersih-Bersih oleh Komunitas
Sebelumnya, Komunitas Transport for Malang, KP Alternatif, dan Aliansi Malang Bergerak melakukan aksi bersih-bersih halte di Jalan Veteran. Aksi itu mendapat banyak respons di media sosial.







