Malang — Maulayya Shalwaa Alfajry Kia, delegasi Universitas Islam Malang, memaparkan gagasan tentang transformasi pendidikan global melalui nilai-nilai pesantren boarding system dalam ajang International Conference Santri Mendunia Batch 5. Gagasan tersebut menekankan pentingnya santri sebagai warga global sekaligus duta Islam moderat yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan identitas keislaman.
Dalam pemaparannya, Maulayya menjelaskan bahwa pesantren memiliki peran strategis dalam membentuk generasi muda yang kritis, toleran, disiplin, dan mampu berkomunikasi lintas budaya. Menurutnya, tantangan pendidikan global saat ini menuntut lembaga pendidikan untuk tidak hanya fokus pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kompetensi abad ke-21.
Ia menegaskan bahwa sistem boarding di pesantren bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang pembelajaran sosial yang menanamkan nilai kebersamaan, kerja sama, empati, dan kepemimpinan. Nilai-nilai seperti wasathiyah atau moderasi Islam menjadi fondasi penting agar santri dapat tumbuh sebagai pribadi yang seimbang, terbuka, dan siap menghadapi dinamika global.
Maulayya juga menyoroti bahwa santri memiliki peluang besar untuk menjadi jembatan dialog antarbudaya dan agen perdamaian di tingkat internasional. Dengan pembiasaan hidup bersama, santri belajar menghargai perbedaan, menyampaikan pesan Islam yang damai, serta melawan stereotip negatif terhadap Islam melalui sikap dan tindakan yang moderat.
Solusi dan Inovasi
Dalam artikelnya, ia menawarkan beberapa langkah penguatan pesantren agar lebih relevan di era global. Upaya tersebut meliputi integrasi kurikulum global, penguatan literasi digital, penguasaan bahasa asing, serta pengembangan kerja sama internasional dengan lembaga pendidikan luar negeri.
Selain itu, ia menekankan pentingnya membangun lingkungan asrama yang edukatif untuk memperkuat pembiasaan nilai toleransi dan kepemimpinan. Menurutnya, inovasi tersebut dapat menjaga identitas pesantren sekaligus membuka ruang adaptasi terhadap kebutuhan pendidikan modern.
Melalui gagasan ini, Maulayya Shalwaa Alfajry Kia menegaskan bahwa pesantren tidak hanya relevan sebagai lembaga pendidikan tradisional, tetapi juga berpotensi menjadi pusat pembentukan generasi global yang berakhlak, cakap, dan moderat. Pemikiran tersebut menjadi kontribusi penting bagi penguatan peran santri dalam percakapan pendidikan internasional dan diplomasi nilai Islam yang damai.







