Tragedi Berawal dari Perselisihan Saat Bermain Game
Sebuah kejadian tragis terjadi di Singkawang yang berawal dari perselisihan kecil saat bermain game. Wesley (12), seorang siswa SMP, mengalami pecah tengkorak setelah dipukul palu oleh temannya sendiri. Korban kini sedang menjalani perawatan intensif di RSUD Abdul Aziz. Keluarga korban berharap ada tanggung jawab dari pihak pelaku.
Kasus ini telah dilaporkan ke polisi dan menjadi perhatian DPRD serta Pemkot Singkawang. Berikut adalah rangkaian peristiwa yang mengakibatkan tragedi ini:
Awal Mula Perselisihan
Menurut keluarga, perselisihan bermula dari permainan game beberapa waktu lalu. Sejak saat itu, pelaku disebut beberapa kali mengajak korban berkelahi. Namun, anak korban tidak pernah menanggapi ajakan tersebut. Akhirnya, ia bertanya kenapa selalu diajak berkelahi padahal mereka berteman baik.
Perselisihan sempat memicu perkelahian kecil. Beberapa bulan kemudian, masalah kembali memanas. Pada Jumat pekan lalu, korban sedang bermain di rumah temannya di kawasan Jalan KS Tubun, Kota Singkawang. Saat itulah pelaku diduga datang dan langsung memukul kepala korban menggunakan palu.
Korban langsung kejang-kejang dan dilarikan ke rumah sakit setelah warga serta teman-temannya memberi tahu pihak keluarga. Hasil pemeriksaan medis menunjukkan korban mengalami pecah pada bagian tengkorak kepala dan masih membutuhkan penanganan medis lanjutan.
Kondisi Korban
Pihak keluarga menyebut korban kemungkinan masih harus menjalani terapi hingga operasi pemasangan tempurung kepala. Selain itu, salah satu kaki korban juga belum bisa digerakkan secara normal.
“Kami orang susah. Pengobatan masih panjang dan sekarang masih pakai BPJS. Kami berharap ada tanggung jawab dari pihak pelaku,” ungkap C, ibu korban.
Diduga Sudah Direncanakan
Keluarga menduga aksi penganiayaan tersebut sudah direncanakan sebelumnya. C mengaku sempat melihat pelaku beberapa kali mondar-mandir di sekitar lokasi kejadian sebelum insiden terjadi. “Sebelum kejadian pelaku sempat bolak-balik di sekitar lokasi dan memantau,” katanya.
Menurutnya, teman-teman korban juga sempat melihat pelaku menyembunyikan sesuatu di balik bajunya. Pelaku kemudian diduga menyuruh teman-teman korban pergi ke warung agar korban tinggal sendirian. “Dia juga sempat mengalihkan perhatian teman-teman anak saya supaya pergi ke warung. Setelah anak saya sendirian, baru dipukul menggunakan palu,” ujarnya.
Peristiwa Sebelumnya
Ibu pelaku sempat mendatangi dan memarahi korban karena mendengar kabar anaknya berkelahi. “Dia sempat mencekik dan menampar anak saya di depan rumah tetangga,” kata Chinusha.
Beberapa bulan setelah kejadian itu, pelaku diduga melakukan pemukulan yang membuat korban mengalami luka serius.
Suasana di Rumah Sakit
Suasana haru menyelimuti ruang perawatan RSUD Abdul Aziz Singkawang. Di atas ranjang rumah sakit, W (12), siswa kelas 1 SMP Negeri 2 Singkawang, hanya bisa terbaring lemah setelah mengalami luka berat di bagian kepala akibat dugaan penganiayaan brutal menggunakan palu oleh teman sebayanya.
Bocah yang sebelumnya aktif bermain bersama teman-temannya itu kini harus menjalani perawatan intensif usai mengalami pecah tengkorak dan menjalani operasi kepala. Tangis sang ibu, C, pecah saat menceritakan kondisi putranya yang kini masih berjuang untuk pulih.
“Anak saya langsung kejang-kejang setelah dipukul,” ujar Chinusha dengan mata berkaca-kaca.
Harapan Keluarga
Hingga kini kasus tersebut telah dilaporkan ke pihak kepolisian dan masih dalam proses penanganan. Keluarga korban berharap ada itikad baik dari pihak pelaku, termasuk bantuan terhadap biaya pengobatan korban yang diperkirakan masih panjang.
“Kami tidak dendam. Kami hanya ingin ada tanggung jawab dan anak kami bisa sembuh kembali,” ujar ibu korban. Ia juga mengaku hingga saat ini pihak keluarga pelaku belum datang menjenguk ataupun meminta maaf secara langsung.
“Kami hanya ingin anak kami bisa sembuh dan normal lagi seperti dulu, bisa bermain bersama teman-temannya lagi,” katanya.
Tanggapan DPRD dan Pemkot Singkawang
Kasus ini turut menjadi perhatian DPRD Kota Singkawang. Anggota DPRD Kota Singkawang, Paryanto, menyayangkan peristiwa kekerasan yang melibatkan anak-anak tersebut. “Kita prihatin dan menyesalkan kejadian tersebut,” ujarnya. Ia meminta pihak kepolisian memproses kasus tersebut sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota Singkawang, Dwi Yanti, mengaku telah menjenguk korban di rumah sakit mewakili wali kota. Menurutnya, kondisi korban mulai membaik setelah menjalani operasi. “Secara umum kondisi korban sudah membaik karena telah selesai menjalani operasi,” katanya.
Pemerintah daerah memastikan proses hukum sepenuhnya diserahkan kepada pihak kepolisian, sementara korban saat ini juga telah mendapat pendampingan hukum.






