Latar Belakang dan Perjalanan Hidup Firdiansyah
Firdiansyah, seorang pengusaha sukses di bidang pendidikan robotik, dulu mungkin hanya dikenal sebagai anak desa yang nakal dan tidak memiliki masa depan. Namun, kini ia menjadi sosok yang memberi inspirasi bagi banyak orang. Dari masa kecilnya yang penuh tantangan hingga kini menjadi pelaku usaha yang mengembangkan program robotik di ribuan sekolah di seluruh Indonesia.
Lahir di Desa Yosowilangun, Kecamatan Yosowilangun, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Firdiansyah tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sederhana. Ayah dan ibunya adalah pedagang di Pasar Yosowilangun. Keadaan ekonomi keluarga yang kurang mampu membuat Firdiansyah sering menghadapi kesulitan, bahkan untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Nasi aking, yaitu nasi sisa yang dibersihkan dan dikeringkan di bawah sinar matahari, sering menjadi makanan utamanya.
Anak Nakal yang Berubah
Di masa kecilnya, Firdiansyah dikenal sebagai anak yang sering membuat onar. Ia sering mendapat marahan dari guru dan bahkan pernah di diskors karena tingkah lakunya. Tidak hanya di desa, kenakalan Firdiansyah juga terjadi di sekolah. Namun, di balik sikapnya yang nakal, tersimpan rasa ingin diakui dan mimpi yang besar.
Suatu hari, seorang guru di SMP Yosowilangun menyadarkan Firdiansyah akan pentingnya punya mimpi. Guru tersebut menegaskan bahwa tanpa prestasi, tidak ada yang bisa dibanggakan. Dari sana, Firdiansyah mulai berubah. Ia rajin belajar, sering mengunjungi perpustakaan, dan meniru kebiasaan Presiden ke-3 Republik Indonesia, BJ Habibie, seperti gemar membaca buku dan olahraga.
Pencapaian Akademis dan Impian Kuliah
Keberhasilan Firdiansyah dalam belajar membuat rangkingnya naik drastis. Bahkan, nilai Ujian Nasional (NEM) yang ia peroleh menjadi yang terbaik se-Kecamatan Yosowilangun. Meski begitu, kondisi keluarganya yang masih sulit membuat Firdiansyah harus memilih jalur prestasi untuk melanjutkan pendidikan tinggi.
Impiannya adalah kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB). Sayangnya, ia diterima di Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Di ITS, Firdiansyah tidak hanya fokus pada studi, tetapi juga aktif berbisnis. Ia menjual jasa fotocopi, komputer, dan les elektronika. Selain itu, ia juga aktif dalam organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), bahkan sampai dipilih sebagai Ketua Umum HMI Cabang Surabaya.
Karier di Dunia Kerja dan Pengalaman Bisnis
Setelah lulus dari ITS, Firdiansyah bekerja di beberapa perusahaan besar seperti Angkasa Pura, Telkom, Garuda Indonesia, dan Nokia. Meski gajinya mencapai belasan juta, ia merasa jenuh dengan pekerjaan karyawan. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk resign dan membangun bisnis sendiri.
Awalnya, Firdiansyah membuka bimbingan belajar, tetapi akhirnya menemukan peluang lebih menjanjikan dengan membuka program pendidikan robotik. Kampung Robot pertamanya dibuka di Tangerang, Banten, lalu dilanjutkan di kampung halamannya, Desa Yosowilangun.
Membangun Kampung Robot
Dengan modal BPJS Ketenagakerjaan sekitar Rp 20 juta, Firdiansyah memulai bisnisnya sendirian. Ia menyusun kurikulum, membuat silabus, dan melakukan pemasaran dari sekolah ke sekolah. Di awal, jumlah sekolah yang terlibat tidak stabil, kadang hanya tiga, lalu naik menjadi lima, dan turun lagi menjadi dua.
Untuk meningkatkan kualitas program, Firdiansyah pergi ke Singapura dan Malaysia pada 2009. Di sana, ia mengikuti seminar dan belajar bagaimana edukasi teknologi dibangun. Dari pengalamannya, ia merekam dan mencatat semua informasi yang berguna.
Kesuksesan dan Harapan Masa Depan
Setelah 17 tahun berjalan, program robotik yang dirintis Firdiansyah telah mencapai sekitar 1.000 sekolah di 20 provinsi di Indonesia. Banyak siswa yang berhasil meraih prestasi internasional, termasuk medali emas lomba robot tingkat ASEAN di Malaysia pada 2024.
Firdiansyah percaya bahwa di masa depan, semua entitas akan membutuhkan percepatan kinerja yang didukung oleh teknologi. “Semua konvergensi teknologi akan mengarah ke robotik atau mesin cerdas, jadi kemampuan ini sangat dibutuhkan,” ujarnya.







