Kepala Sekolah Perempuan di Sekolah Rakyat Terintegrasi 7 Kota Probolinggo
Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 7 Kota Probolinggo adalah sebuah institusi pendidikan yang memiliki visi dan misi luar biasa. Dengan jargon “Cerdas Bersama, Tumbuh Setara”, sekolah ini berupaya memperkuat kemampuan siswa dari berbagai latar belakang, khususnya anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.
Susilowati, seorang guru perempuan yang menjadi Kepala Sekolah SRT 7 Kota Probolinggo, Jawa Timur, memiliki harapan besar bagi sekolah ini. Ia ingin agar SRT 7 bisa berkembang dan menyaingi sekolah-sekolah unggulan lainnya. “Kita ingin sekolah ini nanti bisa berkembang. Bisa sesuai dengan jargonnya, Cerdas Bersama, Tumbuh Setara,” ujarnya.
Sekolah ini merupakan bagian dari program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Program ini ditujukan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang diseleksi secara ketat berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Tujuannya adalah untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi sehingga para lulusannya memiliki taraf hidup yang lebih baik.
Sistem Pendidikan Terpadu Berasrama
Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 7 Kota Probolinggo merupakan bagian dari 100 titik awal program nasional Sekolah Rakyat yang diluncurkan pada 14 Juli 2025. Sekolah ini mengedepankan integrasi pembelajaran, digitalisasi, dan pembekalan keterampilan bagi siswa.
Sekolah tersebut menggabungkan jenjang SMP dan SMA dalam satu sistem terintegrasi. Hal ini memungkinkan siswa untuk merasakan pendidikan yang lebih komprehensif dan terarah.
Susilowati memulai perjalanan karir pendidikannya dari sebuah ruang kelas di kabupaten. Dedikasinya sebagai pengajar Bahasa Inggris telah lama teruji sebelum akhirnya nasib membawanya lolos seleksi untuk posisi puncak pimpinan di Sekolah Rakyat.
Transformasi dari Guru ke Kepala Sekolah
Perpindahan peran dari seorang pengajar di kelas menjadi pemimpin sebuah sekolah membawa tantangan baru bagi Susilowati. Jika dulu fokusnya hanya terbatas pada manajemen kurikulum di dalam kelas, kini ia harus mengelola ekosistem pendidikan yang jauh lebih kompleks.
Ia bertanggung jawab atas operasional sekolah, kesejahteraan asrama, hingga pengembangan karakter siswa secara holistik selama 24 jam penuh. “Memang bedanya adalah tantangan dan tanggung jawab. Kalau kemarin kami seorang guru untuk mengatur pendidikan di kelas. Namun ketika kami ada di posisi kepala sekolah, sekaligus kami harus menjadi administrator, juga manajerial,” katanya.
Sebagai kepala sekolah, ia mengkoordinasikan tim yang terdiri dari 18 guru, 20 wali asuh, dan delapan wali asrama, tiga juru masak, enam cleaning service, dan enam sekuriti. Untuk memastikan pengasuhan yang berkualitas, ia menerapkan rasio 1:5, yakni satu wali asuh bertanggung jawab dalam pengasuhan lima anak.
Di SRT 7 Probolinggo, saat ini tercatat ada 91 peserta didik, dari jumlah awal 100 siswa. Sebanyak 20 wali asuh ditugaskan untuk mendampingi aktivitas siswa dalam tiga shift kerja. Terdapat buku penghubung sehingga wali asuh bisa mengetahui perkembangan anak maupun pekerjaan rumah (PR) yang diberikan oleh guru lewat buku penghubung.
Kecerdasan dan Iman Anak Harus Seiring
Di bawah kepemimpinan Susilowati, SRT 7 Probolinggo tidak hanya mengejar angka-angka di atas kertas rapor. Ia menyadari bahwa kecerdasan intelektual harus dibarengi dengan keterampilan praktis dan keteguhan iman.
Oleh karena itu, ia menjalin kerja sama dengan Balai Latihan Kerja (BLK) untuk memfasilitasi anak yang ingin bekerja usai lulus dari Sekolah Rakyat nanti. “Oleh karenanya kami fokus pada bakat anak-anak. Kami juga sudah ke BLK. Manakala anak kami nanti ada yang mau tertarik dengan otomotif dan sebagainya, akan kami titipkan di sana,” tuturnya.
Sekolah juga mengadakan pelatihan pembuatan kopi dan tote bag digital printing untuk memfasilitasi anak-anak yang memiliki minat kewirausahaan. Selain itu, sisi religius menjadi pilar utama dalam keseharian di asrama. Hal itu menjawab keraguan para orang tua siswa perihal pendidikan agama.
Setiap pagi, sebelum matahari terbit, para siswa harus bangun untuk melaksanakan salat subuh berjamaah dan mengaji. Tiga guru ngaji disiapkan untuk membimbing siswa secara intensif agar mereka tetap bisa mendalami agama tanpa harus kehilangan waktu belajar umum.
“Jadi kecerdasan intelektual dan spiritualnya biar berjalan beriring,” kata Susilowati.
Kisah Kepala Sekolah Perempuan
Kisah kepala sekolah perempuan di Sekolah Rakyat Terintegrasi 7 Kota Probolinggo tersebut adalah cermin nyata dari semangat Kartini di masa kini. Seperti halnya Kartini yang mendambakan pendidikan bagi kaumnya, sosok Susilowati telah membuktikan bahwa perempuan masa kini bukan hanya mampu mengenyam pendidikan tinggi, tetapi juga mampu menjadi pemimpin yang membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan.
Dedikasinya yang tanpa batas, keberaniannya mengambil tanggung jawab besar sebagai manajer institusi, serta ketulusannya dalam merawat keseimbangan otak dan hati para muridnya, adalah bentuk emansipasi yang paling hakiki.
Ia adalah Kartini modern yang tidak lagi berjuang melalui surat-surat, melainkan melalui sentuhan langsung dalam ikhtiar mencetak generasi emas yang cerdas, tangguh, dan setara bagi masa depan bangsa Indonesia.






