Kehidupan Modestus Arpikini: Dari Pesisir Mimika ke Dunia Internasional
Modestus Arpikini, seorang pemuda asli suku Kamoro dari pesisir Mimika, telah membuktikan bahwa pendidikan formal bisa menjadi jembatan untuk mengubah takdir. Dengan semangat dan ketekunan, ia berhasil melampaui berbagai rintangan dan kini menempuh studi di Politeknik Kelautan dan Perikanan.
Awal Perjalanan Pendidikan
Modestus lahir pada 17 Maret 2005, di Kampung Akar, Distrik Mimika Barat, Kabupaten Mimika, Papua Tengah. Sejak kecil, ia tumbuh di lingkungan yang terbatas akses pendidikan. Namun, ia tidak pernah menyerah. Langkah pertamanya dimulai saat ia harus meninggalkan rumah untuk menempuh pendidikan di SMP YPPK Le Cocq D’Armandville Kokonao.
Jarak geografi yang jauh memaksa dirinya terbiasa mandiri dan menempa mentalitas bertahan hidup di dalam lingkungan asrama sekolah Katolik. “Kami dapat fasilitas asrama dan makan tiga kali sehari. Karena di sana Katolik, kami juga ibadah bersama,” kenang Modestus saat zoom meeting bersama wartawan.
Rintangan dan Keberanian
Perjalanan pendidikan Modestus tidak selalu mulus. Saat melanjutkan studi di SMK Tunas Bangsa Pariwisata Timika, gangguan kesehatan parah sempat membuatnya menunda aktivitas belajar. Ia akhirnya memutuskan untuk pindah sekolah agar bisa melanjutkan studi.
Di SMK St. Yohanis Don Bosco Timika, ia memilih program keahlian Teknik Jaringan Komputer hingga berhasil menyelesaikan pendidikan menengah atas dengan baik. Setelah lulus, realitas ekonomi sempat membuatnya ragu untuk melanjutkan kuliah.
Kesempatan Emas dari YPMAK
Namun, takdir baik menjemput dedikasinya melalui perantara tangan suster pembina asrama yang melihat potensi besar di dalam diri sang pemuda. Nama Modestus diajukan kepada YPMAK, lembaga pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia yang fokus membuka akses pendidikan bagi anak-anak suku Amungme dan Kamoro.
“Karena kehendak Tuhan akhirnya saya diterima kuliah,” ucapnya dengan nada penuh rasa syukur. Penerimaan beasiswa tersebut menjadi catatan sejarah baru dalam hidup Modestus yang belum pernah menginjakkan kaki keluar dari tanah Papua.
Prestasi yang Mengagumkan
Rasa cemas dan haru bercampur menjadi satu ketika dirinya harus melangkah naik ke atas kabin pesawat terbang untuk pertama kalinya. “Saya pertama kali naik pesawat itu bingung dan sedih karena harus tinggal orangtua,” kenang taruna muda tersebut.
Kini, Modestus telah berstatus sebagai taruna tingkat satu pada Program Studi Agribisnis Perikanan di Politeknik Kelautan dan Perikanan. Di kampus kedinasan berasrama tersebut, ia langsung menggebrak lewat prestasi akademik yang sangat membanggakan di tingkat nasional.
Meski baru setahun mengecap atmosfer perkuliahan, pemuda pesisir Mimika ini sukses menyabet Medali Emas Juara 1 Olimpiade PPKN Tingkat Nasional. Prestasi gemilang tersebut menjadi bukti sahih bahwa anak-anak asli Kamoro memiliki daya saing yang sejajar dengan mahasiswa dari seluruh penjuru Nusantara.
Mimpi yang Semakin Tinggi
Tidak puas hanya sampai di tingkat nasional, Modestus kini tengah merajut mimpi baru yang jauh lebih tinggi dan menantang. Di sela-sela kesibukan asrama kedinasan, ia secara konsisten mengalokasikan waktu untuk mempelajari tata bahasa dan kebudayaan Jepang.
“Sekarang saya fokus belajar bahasa Jepang untuk lanjut ke Jepang,” tegas Modestus mengenai target masa depan. Melalui pencapaian yang telah diraih, Modestus tidak pernah lupa mengekspresikan apresiasi mendalam kepada YPMAK yang telah mendanai seluruh biaya pendidikannya.
Ia berkomitmen penuh untuk mengembalikan kebaikan tersebut dalam bentuk dedikasi dan prestasi yang mengharumkan nama daerah. “Saya berterima kasih kepada YPMAK yang telah membiayai kami di sini. Untuk teman-teman di Timika kita harus mampu dan meraih mimpi, jangan pernah takut,” seru Modestus menyemangati generasi muda Papua.
Harapan dan Inspirasi
Bagi Modestus Arpikini, jalur pendidikan formal adalah kunci utama untuk merombak struktur masa depan dan memutus rantai keterbatasan. Keberhasilan yang ia raih menjadi penanda penting bahwa mimpi anak-anak Kamoro tidak boleh berhenti di tepian pantai Mimika, melainkan harus terbang tinggi hingga ke negeri seberang.







