Infomalangraya.com.CO.ID, KARAWANG — Kalimat “Ngapain sih kuliah? Ujung-ujungnya kerja juga” semakin sering terdengar di tengah maraknya kisah-kisah orang yang sukses tanpa menyelesaikan pendidikan perguruan tinggi. Banyak masyarakat mulai mempertanyakan relevansi pendidikan tinggi, bahkan menganggapnya sebagai pemborosan waktu dan biaya. Namun, apakah benar kuliah hanya sekadar formalitas?
Mitos pertama menyatakan bahwa kuliah tidak menjamin kesuksesan, sehingga percuma. Faktanya, tidak ada jalur hidup yang bisa menjamin keberhasilan mutlak. Tujuan utama dari pendidikan perguruan tinggi bukanlah jaminan kesuksesan, melainkan meningkatkan peluang seseorang dalam berbagai bidang kehidupan.
Di lingkungan kampus, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga dilatih untuk berpikir kritis, memecahkan masalah, bekerja dalam tim, serta mengelola waktu secara efektif. Soft skills seperti komunikasi, kepemimpinan, dan kemampuan presentasi tumbuh dari proses ini, yang sangat dibutuhkan dalam dunia kerja modern.
Mitos kedua menyebut bahwa banyak orang sukses tanpa gelar pendidikan. Memang ada, tetapi mereka adalah pengecualian, bukan mayoritas. Terkadang kita terjebak pada survivorship bias, yaitu hanya melihat orang-orang yang berhasil dan melupakan ribuan yang gagal atau tidak terkenal. Dalam realitasnya, gelar pendidikan masih menjadi pintu masuk bagi banyak profesi, terutama di bidang teknologi, bisnis, pendidikan, dan keuangan.
Mitos ketiga mengatakan bahwa ilmu yang dipelajari di bangku kuliah tidak terpakai. Padahal, teori adalah fondasi dari praktik. Tanpa dasar yang kuat, keterampilan teknis akan mudah goyah saat menghadapi perubahan. Kuliah membentuk cara berpikir sistematis, logis, dan analitis. Kemampuan ini bisa diterapkan lintas bidang. Masa kuliah juga menjadi waktu terbaik untuk eksplorasi melalui magang, organisasi, lomba, dan proyek kolaboratif yang menjembatani teori dengan praktik nyata.
Kuliah juga bukan hanya tentang gelar, tetapi tentang jaringan dan proses pendewasaan. Teman sekelas bisa menjadi partner bisnis, dosen bisa menjadi mentor, dan pengalaman organisasi membentuk karakter kepemimpinan. Semua ini adalah modal sosial yang sering kali menentukan peluang di masa depan.
Menurut Nurul Ichsan, Kepala Kampus Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Cikampek, nilai kuliah terletak pada proses, bukan sekadar hasil akhir. “Kuliah bukan hanya tempat mencari ijazah, tetapi ruang untuk membangun pola pikir, karakter, dan kompetensi. Mereka yang memanfaatkan masa kuliah dengan aktif akan memiliki keunggulan saat memasuki dunia kerja,” ujarnya dalam keterangan, Kamis (19/3/2026).
Pada akhirnya, apakah kuliah dianggap sebagai pemborosan waktu sangat bergantung pada cara seseorang menjalaninya. Jika hanya hadir tanpa tujuan, mungkin terasa sia-sia. Namun jika dimanfaatkan untuk membangun kompetensi, relasi, dan pengalaman, kuliah justru menjadi fase penting yang membentuk arah hidup.
Di era perubahan cepat, pendidikan bukan lagi soal siapa yang paling pintar, melainkan siapa yang paling adaptif dan terus belajar. Kuliah adalah salah satu tempat latihan paling intens untuk membangun kemampuan itu, semacam dojo intelektual tempat otak ditempa sebelum dilempar ke dunia nyata yang absurd tapi menakjubkan.
Bagi yang ingin merancang masa depan akademik dan karier lebih terarah, informasi pendaftaran mahasiswa baru UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif, dapat diakses melalui laman resmi PMB UBSI di https://pmbubsi.id/pmb sebagai langkah awal memulai perjalanan pendidikan tinggi.







