Kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Pyongyang: Signifikansi dan Dampak
Kunjungan Presiden China, Xi Jinping, ke Pyongyang untuk bertemu dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, menjadi perhatian besar di kawasan Asia Timur. Bukan hanya karena pertemuan tersebut, tetapi juga karena keputusan Xi untuk melakukan perjalanan langsung ke negara tersebut. Ini menandai perubahan dalam strategi diplomatik China yang sebelumnya lebih fokus pada penerimaan kunjungan dari pemimpin dunia di Beijing.
Pertemuan antara Xi dan Kim bukanlah hal baru. Keduanya terakhir kali bertemu di Beijing setahun lalu dalam rangka peringatan 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II di Asia. Namun, kunjungan Xi ke Pyongyang memiliki makna tersendiri, mengingat ia cenderung mengurangi frekuensi perjalanan luar negeri dalam beberapa tahun terakhir.
Xi Jinping jarang bepergian, kunjungan ke Korut ada arti khusus
Analis Senior Asia Timur Laut Crisis Group, William Yang, menilai bahwa keputusan Xi untuk datang langsung ke Pyongyang menunjukkan pentingnya hubungan tersebut bagi Beijing. Ia menyatakan, “Kita perlu mengingat bahwa Xi Jinping sebenarnya tidak banyak melakukan perjalanan ke luar negeri dalam beberapa tahun terakhir.” Menurut dia, tren yang berkembang justru menunjukkan para pemimpin dunia yang datang ke Beijing untuk bertemu Xi.
“Tren yang semakin terlihat adalah para pemimpin asing yang datang ke Beijing untuk bertemu dengannya,” ujarnya. Ia menambahkan, “Bagi Xi Jinping yang memutuskan bepergian ke Pyongyang, hal itu menunjukkan tingkat signifikansi yang diberikan China terhadap kunjungan ini.”
Data Asia Society menunjukkan bahwa Xi rata-rata melakukan sekitar 14 perjalanan luar negeri per tahun pada periode 2013–2019. Namun angka itu turun menjadi sekitar enam perjalanan per tahun sepanjang 2022–2025.
Kedekatan Korut-Rusia jadi perhatian Beijing

Sejumlah pengamat menilai salah satu alasan utama kunjungan Xi berkaitan dengan semakin eratnya hubungan Korea Utara dan Rusia sejak perang Ukraina pecah pada 2022. Selama bertahun-tahun, China dikenal sebagai mitra utama Korea Utara. Negara itu menjadi tujuan sebagian besar perdagangan luar negeri Pyongyang. Namun dinamika tersebut mulai berubah setelah Korea Utara memberikan dukungan militer kepada Rusia dalam perang di Ukraina.
Laporan Institute for National Security Strategy Korea Selatan memperkirakan, Moskow telah membayar hingga 14,4 miliar dolar AS kepada Korea Utara sejak 2023 untuk pengiriman pasukan serta ekspor artileri, peluru, dan rudal. Lembaga itu juga menyebut sebagian besar kompensasi kemungkinan diberikan dalam bentuk teknologi militer sensitif atau komponen strategis yang sulit dideteksi.
Menurut William Yang, perkembangan tersebut dapat memunculkan kekhawatiran baru bagi Beijing. “Beijing selalu sangat berhati-hati dalam memberikan bantuan militer kepada Korea Utara karena mereka tidak melihat Korea Utara yang lebih kuat secara militer sebagai sesuatu yang otomatis menguntungkan mereka,” katanya. Ia menambahkan, “Korea Utara yang semakin percaya diri secara militer melalui hubungannya dengan Rusia berpotensi menjadi sumber gangguan terhadap keseimbangan kekuatan dan status quo di Semenanjung Korea.”
Nuklir, rudal, dan stabilitas kawasan

Kekhawatiran tersebut muncul di tengah peningkatan aktivitas militer Korea Utara dalam beberapa waktu terakhir. Sejak awal tahun, Pyongyang telah melakukan delapan kali peluncuran rudal. Pada Mei lalu, Korea Utara juga memperkenalkan rudal jelajah taktis berpemandu kecerdasan buatan (AI). Pekan ini, media pemerintah Korea Utara merilis foto Kim Jong Un saat mengunjungi fasilitas baru produksi material nuklir untuk senjata. Fasilitas itu disebut akan digunakan untuk meningkatkan kemampuan nuklir Korea Utara dengan laju yang eksponensial.
Di sisi lain, Korea Selatan berharap kunjungan Xi dapat membantu meredakan ketegangan di Semenanjung Korea yang kembali meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Kementerian Luar Negeri Korea Selatan menyatakan harapan agar kunjungan tersebut memainkan peran konstruktif dalam mengatasi berbagai isu terkait Semenanjung Korea.
Hubungan antar-Korea memburuk sejak Kim Jong Un pada 2024 meninggalkan tujuan jangka panjang reunifikasi Korea dan mengurangi berbagai saluran komunikasi dengan Seoul. Selain itu, China juga disebut mencermati perkembangan keamanan lain di kawasan, termasuk pembahasan kemungkinan pakta dukungan logistik militer antara Korea Selatan dan Jepang yang mencuat dalam Shangri-La Dialogue di Singapura pekan lalu.
Di tengah perubahan dinamika geopolitik Asia Timur, kunjungan Xi ke Pyongyang dipandang sebagai momentum penting untuk memastikan posisi dan kepentingan China tetap terjaga di kawasan yang semakin kompleks.







