Latar Belakang dan Perjalanan Pendidikan
Muhammad Novsyahroni Umar (30), seorang disabilitas asal Jawa Timur, kini menjadi asisten profesor atau tutor di University of Sydney, Australia, dalam bidang Media dan Komunikasi. Meski tidak memiliki tangan yang sempurna, ia mampu menghadapi berbagai tantangan dengan tekad dan keyakinan yang kuat. Perjalanannya untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya adalah bukti bahwa ketangguhan bisa mematahkan stigma dan membuka jalan menuju kesuksesan.
Lahir dari orang tua pekerja migran, Umar dibesarkan di Arab Saudi. Kehidupan keluarganya dipengaruhi oleh kebutuhan ekonomi yang membuat orang tuanya bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Negeri Minyak. Hal ini juga membuat neneknya terlibat dalam perantauan. Meskipun latar belakang orang tuanya hanya lulusan SD, dukungan mereka terhadap pendidikan Umar sangat besar.
Umar menempuh pendidikan dasar hingga menengah atas di Sekolah Indonesia Jeddah. Dari sana, ia mampu menguasai tiga bahasa: Arab, Indonesia, dan Inggris. Namun, perjalanan pendidikannya tidak selalu mulus. Ia menghadapi penolakan saat ingin masuk sekolah reguler di Arab Saudi karena kondisi fisiknya.
Melawan Stigma dan Menghadapi Cibiran
Pada usia 7 tahun, Umar akhirnya diterima di Sekolah Indonesia Jeddah setelah konsisten menduduki peringkat pertama dan menunjukkan kemampuan akademik yang baik. Seorang ustazah berperan penting dalam membantu meyakinkan guru-guru bahwa ia layak diterima.
Namun, di tengah proses belajarnya, Umar sering mengalami bullying karena kondisi tangannya. Perlakuan tidak menyenangkan membuatnya tidak percaya diri. Bahkan, ia sesekali menggunakan hijab untuk menutupi tangan agar tidak dianggap aneh.
Cibiran dan ejekan terus datang. Ada yang pernah menyarankan orang tuanya untuk menenggelamkannya saat masih bayi. Namun, keteguhan dan kasih sayang orang tua memberinya kekuatan untuk terus melangkah.
Kembali ke Indonesia dan Menjadi Mahasiswa
Pada tahun 2015, Umar dan keluarganya memutuskan kembali ke Indonesia. Ia mencari perguruan tinggi negeri untuk melanjutkan studi, tetapi berbagai ujian seleksi tidak membuahkan hasil. Akhirnya, ia memilih Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) di Surabaya.
Kampus ini menjadi satu-satunya yang menerima Umar tanpa melihat kondisi disabilitasnya. Ia diterima sebagai calon mahasiswa biasa. Setelah lulus sarjana, Umar bekerja sebagai public relation di kampusnya. Di sela waktu libur, ia terus belajar Bahasa Inggris dan Tes Potensi Akademik (TPA) untuk rencana melanjutkan studi.
Mimpi di Negeri Kanguru
Setelah lulus magister ilmu komunikasi secara gratis melalui beasiswa LPDP, Umar mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan S3 di University of Sydney, Australia. Ia diterima dalam program Media dan Komunikasi melalui beasiswa LPDP.
Di Australia, Umar harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Ia hidup dari nol, karena sebelumnya didampingi orang tua. Selain itu, ia harus menghadapi skoliosis dan kesulitan dalam memahami bahasa lokal. Namun, kampus tersebut memiliki akses khusus untuk disabilitas, termasuk pintu khusus dan layanan bantuan.
Berkontribusi sebagai Tutor dan Pembicara
Di University of Sydney, Umar tidak hanya menjadi mahasiswa biasa. Ia dipercaya sebagai tutor atau asisten profesor yang membantu mengajar mahasiswa lain. Tugasnya mencakup fasilitasi diskusi dan penyampaian materi.
Selain aktif dalam kuliah, Umar juga aktif sebagai pembicara dalam seminar dan ruang diskusi. Setelah lulus S3, ia berencana kembali ke Indonesia untuk mengabdi sebagai akademisi dan peneliti.
Pendidikan sebagai Cahaya
Bagi Umar, pendidikan adalah kunci untuk membangun masa depan. Ia percaya bahwa pendidikan dapat menerangi jalan keluar dari ruang gelap.
“Dengan punya pendidikan aku bisa punya suara untuk memberantas ketidakadilan,” ujarnya.
Ia ingin menjadi cahaya yang tidak hanya menerangi dirinya sendiri, tetapi juga orang lain. Tujuannya bukan hanya menjadi akademisi, tetapi juga memberi kesempatan yang sama bagi teman-teman disabilitas.







