Perayaan Ramadan sebagai Momentum Peningkatan Ibadah dan Kualitas Diri
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Prof. Ridwan, mengajak seluruh civitas akademika dan umat Islam untuk menyambut datangnya Bulan Suci Ramadan 1447 Hijriah dengan penuh rasa syukur, kegembiraan, dan semangat meningkatkan kualitas ibadah.
Dalam pesannya di program Lentera Ramadan UIN Saizu Purwokerto, Prof. Ridwan menegaskan bahwa kesempatan bertemu Ramadan merupakan nikmat besar yang tidak diberikan kepada setiap orang. Karena itu, momentum ini harus disambut dengan hati yang lapang dan rasa syukur yang mendalam.
“Alhamdulillah, kita kembali dipertemukan dengan bulan Ramadan. Ini adalah nikmat luar biasa dari Allah SWT, karena tidak semua orang diberi kesempatan untuk menjumpai bulan suci ini,” ujarnya.
Prof. Ridwan menjelaskan, Rasulullah SAW selalu menyampaikan kabar gembira kepada para sahabat ketika Ramadan tiba. Hal ini menunjukkan bahwa Ramadan bukan sekadar bulan biasa, melainkan syahrun mubarak atau bulan yang penuh berkah.
Dia menuturkan, kabar gembira tersebut disampaikan karena pada bulan inilah Allah SWT mewajibkan umat Islam untuk menjalankan ibadah puasa, sebuah ibadah yang memiliki keistimewaan dibandingkan ibadah lainnya.
“Ramadan adalah bulan yang diberkahi. Pada bulan ini Allah mewajibkan kita berpuasa, dan puasa memiliki keistimewaan yang sangat luar biasa,” jelasnya.
Puasa sebagai Ibadah yang Bersifat Sirriyah
Menurutnya, puasa berbeda dengan ibadah lain karena sifatnya sangat personal dan rahasia. Ibadah ini tidak sepenuhnya dapat dinilai oleh manusia, melainkan hanya diketahui secara pasti oleh pelakunya dan Allah SWT.
Rektor menekankan bahwa puasa merupakan ibadah yang bersifat sirriyah atau rahasia. Seseorang bisa saja terlihat menjalankan puasa di hadapan keluarga atau lingkungan sekitarnya. Namun, hakikat puasanya hanya diketahui oleh dirinya sendiri dan Allah SWT.
“Orang bisa saja tampak berpuasa di hadapan orang lain. Sahur bersama, berbuka bersama. Tetapi yang benar-benar tahu apakah ia menjaga puasanya atau tidak, hanyalah dirinya dan Allah SWT,” tegasnya.
Karena sifatnya yang sangat pribadi, puasa menjadi sarana pembentukan integritas dan kejujuran spiritual. Umat Islam dilatih untuk menahan diri bukan karena pengawasan manusia, melainkan karena kesadaran bahwa Allah SWT selalu mengawasi.
Keistimewaan Puasa dalam Ganjaran
Lebih lanjut, Prof. Ridwan mengungkapkan bahwa keistimewaan puasa juga terletak pada ganjarannya yang tidak terbatas. Jika ibadah lain memiliki perhitungan pahala tertentu, maka pahala puasa sepenuhnya menjadi hak prerogatif Allah SWT.
Dia membandingkan dengan ibadah salat berjamaah yang memiliki kelipatan pahala tertentu. Sementara puasa, menurutnya, memiliki keutamaan yang jauh lebih luas karena balasannya langsung dari Allah SWT tanpa batasan angka.
Prof. Ridwan juga menyinggung hadis yang menyebutkan bahwa pada bulan Ramadan pintu-pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Menurutnya, hal ini menggambarkan suasana spiritual yang berbeda selama Ramadan.
Energi Ibadah yang Meningkat
Dia menjelaskan bahwa Ramadan menghadirkan energi kolektif yang mendorong umat Islam untuk lebih rajin beribadah. Aktivitas ibadah meningkat, semangat berbagi tumbuh, dan kepedulian sosial semakin kuat.
“Ramadan membangun spirit baru. Energi ibadah meningkat. Orang-orang lebih fokus pada kebaikan. Inilah yang digambarkan sebagai terbukanya pintu surga dan tertutupnya pintu neraka,” ungkapnya.
Menurutnya, ketika umat Islam fokus beribadah, godaan dan gangguan menjadi lebih kecil. Gambaran setan yang dibelenggu mencerminkan kondisi spiritual yang kondusif untuk memperbanyak amal saleh.
Proses Training Spiritual
Rektor UIN Saizu menyebut Ramadan sebagai proses training spiritual yang sistematis. Selama satu bulan penuh, umat Islam ditempa untuk melatih kesabaran, kedisiplinan, kejujuran, dan kepedulian sosial.
Ia menilai, jika Ramadan dijalani dengan sungguh-sungguh, maka hasilnya akan terlihat dalam perubahan sikap dan perilaku setelah bulan suci berakhir. “Ramadan adalah proses pembentukan karakter. Dari sini lahir energi baru, semangat baru, bahkan karya dan prestasi baru,” katanya.
Momentum Transformasi Diri
Menurutnya, hasil dari proses spiritual selama Ramadan seharusnya melahirkan pribadi-pribadi yang lebih baik, baik dalam kehidupan akademik, sosial, maupun profesional. Prof. Ridwan mengajak seluruh civitas akademika dan masyarakat untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum transformasi diri.
Ia menekankan bahwa cara terbaik mensyukuri kesempatan bertemu Ramadan adalah dengan memaksimalkan ibadah dan memperbanyak amal kebaikan.
“Gunakan Ramadan sebagai momentum meningkatkan kualitas diri. Perbanyak ibadah, perkuat kepedulian sosial, dan tingkatkan prestasi,” pesannya. Ia berharap, setelah menjalani Ramadan, setiap individu dapat terlahir kembali menjadi pribadi yang lebih disiplin, lebih produktif, dan lebih berintegritas.
Dengan semangat Ramadan 1447 Hijriyah, UIN Saizu Purwokerto berkomitmen menjadikan bulan suci ini sebagai penguat nilai-nilai spiritual, akademik, dan sosial. Ramadan diharapkan tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi benar-benar menjadi titik balik menuju perubahan yang lebih baik.







