Inovasi Mie Kelor dan Kompiang Kelor untuk Mengatasi Stunting di NTT
Tim Sahabat Kelor Undana menciptakan inovasi berupa mie kelor dan kompiang kelor sebagai upaya untuk menekan angka stunting yang tinggi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Inisiatif ini dilakukan oleh empat mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Nusa Cendana (Undana), Kupang. Anggota tim terdiri dari Ketua Tim Sahabat Kelor Undana, Aditia Cahya Saputra, serta anggota lainnya yaitu Aurelia Esem, Hector Abubakar Abdullah, dan Dominikus A. Depha Daki.
Meskipun tidak memiliki latar belakang pendidikan kesehatan, keempat mahasiswa ini memutuskan untuk mengambil langkah nyata dalam membantu pemerintah daerah dengan kemampuan mereka. Proposal mereka bahkan terpilih dari ratusan proposal yang diajukan untuk mendapatkan pendanaan dari Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW).
Dalam wawancara eksklusif bersama Pos Kupang, Aditia Cahya Saputra dan Aurelia Esem menjelaskan aktivitas mereka dalam menghasilkan produk-produk ini. Awalnya, produk ini dirancang untuk dikonsumsi oleh siapa saja, karena mie kelor disukai oleh anak-anak hingga orang tua. Tidak ada persyaratan khusus bagi pengguna produk ini.
Strategi Pemasaran dan Produksi
Untuk pemasaran, Tim Sahabat Kelor Undana menggunakan metode offline dan online. Namun, fokus utama mereka adalah sistem pre-order (open PO). Penggemar mie kelor dapat melakukan pemesanan melalui Instagram sahabat_kelor, di mana nomor WhatsApp resmi tersedia. Open PO dimulai dari hari Senin hingga Jumat, dengan produksi dilakukan pada hari Sabtu.
Kuota setiap kali produksi terbatas, hanya 100 pcs per minggu. Alasan utamanya adalah untuk menjaga kualitas dan mencegah mental team down. Proses pembuatan mie kelor juga dilakukan secara hati-hati, termasuk pengeringannya yang dilakukan dengan cara pemanggangan. Hal ini membuat mie kelor lebih sehat dibandingkan mie biasa.
Dukungan Kampus dan Tantangan
Dukungan dari kampus sangat besar. Pihak kampus memberikan bimbingan dan fasilitasi, termasuk mencarikan tutor dan relasi dengan ahli di bidang wirausaha. Selain itu, kampus juga mendukung kegiatan eksternal seperti kunjungan ke Magelang.
Aditia menyebutkan bahwa meski mereka bukan mahasiswa jurusan kuliner atau bisnis, kampus tetap mendukung mereka. Dengan bimbingan dari mentor, mereka berhasil menciptakan produk yang unik dan bernilai tambah.
Selama proses produksi, tim menghadapi beberapa tantangan. Salah satunya adalah keterbatasan waktu karena mereka masih mahasiswa. Produksi hanya dilakukan di hari Sabtu. Selain itu, tuntutan dari program pemerintah juga menjadi beban tersendiri karena harus menyelesaikan laporan akhir.
Dukungan Keluarga dan Lingkungan Kampus
Dukungan dari keluarga juga sangat penting. Aurelia mengungkapkan bahwa keluarganya sangat mendukung inisiatif ini, terutama terkait isu stunting. Bahkan, keluarga sempat meminta produk ini dibawa ke Manggarai agar bisa disebarluaskan.
Aditia juga menyampaikan bahwa ia lahir dari keluarga yang bekerja di bidang Food and Beverage (FnB), sehingga ia mewarisi pengetahuan dan alat produksi dari orang tuanya. Hal ini memudahkan proses produksi mie kelor.
Produk Lain yang Dihasilkan
Selain mie kelor, Tim Sahabat Kelor Undana juga menciptakan kompiang kelor. Produk ini merupakan inovasi lanjutan dari bahan dasar kelor. Kompiang kelor memiliki varian rasa seperti keju, coklat, fla kelor, dan abon. Harga kompiang kelor sangat terjangkau, hanya Rp 5.000 untuk 3 pcs.
Dukungan Lingkungan Kampus
Lingkungan kampus juga sangat mendukung. Teman-teman kampus dan dosen sering memberikan masukan serta membantu menyebarkan informasi tentang produk ini. Bahkan, beberapa kali mereka turut serta dalam kegiatan jualan di Car Free Day (CFD).
Aditia menegaskan bahwa lingkungan kampus Undana sangat positif. Meski awalnya merasa agak seram karena banyaknya penilaian, mereka justru mendapat dukungan penuh. Bahkan, teman-teman kampus ikut berpartisipasi dalam proses pemasaran dan promosi produk.
Kesimpulan
Inovasi dari Tim Sahabat Kelor Undana menunjukkan bahwa mahasiswa bisa menjadi agen perubahan, terlepas dari latar belakang pendidikan mereka. Dengan dukungan kampus dan lingkungan yang positif, produk mie kelor dan kompiang kelor menjadi solusi kreatif untuk mengatasi stunting di NTT.







