Kekacauan di Selat Hormuz dan Ancaman dari Presiden AS
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menunjukkan kemarahan setelah pasukan Iran menembaki kapal-kapal yang berada dekat dengan Selat Hormuz. Menurutnya, tindakan tersebut merupakan pelanggaran terhadap janji gencatan senjata yang telah disepakati sebelumnya. Meski begitu, utusan Trump akan tiba di Islamabad, Pakistan pada Senin (20/4/2026) malam untuk melakukan pembicaraan damai dengan Iran.
Trump menegaskan bahwa jika kesepakatan tidak tercapai, Amerika Serikat siap menghancurkan infrastruktur vital Iran. “Kami menawarkan kesepakatan yang sangat adil dan masuk akal. Saya harap mereka menerimanya,” katanya. Ia juga menambahkan, “Jika tidak, Amerika Serikat akan menghancurkan setiap pembangkit listrik dan jembatan di Iran. Tidak ada lagi kata baik!” tulis Trump melalui akun Truth Social miliknya, Minggu (19/4/2026), mengutip Reuters.
Penutupan Selat Hormuz Memicu Ketegangan
Ketegangan ini dipicu oleh keputusan mendadak Teheran yang kembali menutup Selat Hormuz pada hari Sabtu kemarin. Langkah Iran tersebut membatalkan harapan dunia internasional setelah jalur energi vital itu sempat dibuka singkat pada hari Jumat. Akibat penutupan ini, sekitar 20.000 pelaut terdampar di kapal-kapal yang menganggur, sementara harga minyak dunia kembali bergejolak.
Pihak Iran berdalih bahwa penutupan kembali selat tersebut merupakan respons atas blokade angkatan laut AS yang masih berlangsung. Perunding utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengakui memang ada kemajuan dalam dialog dengan AS. Namun, ia menekankan masih ada jurang perbedaan yang lebar, terutama terkait hak nuklir Iran dan status Selat Hormuz.
Iran Tidak Ingin Perang
Sementara itu, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan posisi negaranya di tengah memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah. Pezeshkian menyatakan bahwa Teheran sama sekali tidak memiliki niat untuk memperluas skala peperangan, namun tidak akan tinggal diam jika kedaulatannya diganggu oleh pihak asing.
Dalam pidatonya di sebuah acara kenegaraan pada Minggu (19/4/2026), Pezeshkian menekankan bahwa tindakan militer yang diambil Iran selama ini murni merupakan bentuk pertahanan diri yang sah. Ia juga melontarkan kritik pedas terhadap negara-negara Barat yang dianggapnya berupaya meruntuhkan peradaban Iran.
“Pihak Barat ingin menghancurkan peradaban kita dan membawa kita kembali ke ‘Zaman Batu’. Namun, mereka harus tahu bahwa Iran tidak pernah memulai konflik. Kami tidak menyerang negara manapun, kami hanya membela hak nasional kami,” ujar Pezeshkian sebagaimana dikutip dari WANA News Agency.
Kritik terhadap Campur Tangan AS
Tak hanya soal militer, Pezeshkian juga menyentil campur tangan AS, terutama terkait program nuklir Iran. Ia mempertanyakan kapasitas AS yang seolah-olah merasa memiliki hak untuk mengatur urusan dalam negeri negara lain.
“Siapa sebenarnya Amerika Serikat hingga merasa berhak memutuskan masa depan dunia?” cetusnya saat mengunjungi kantor Kementerian Olahraga dan Pemuda setempat.
Di hadapan publik, Pezeshkian memuji kesiapan Angkatan Bersenjata Iran, termasuk Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan milisi Basij. Menurutnya, kemampuan militer Iran saat ini telah melampaui prediksi para analis internasional dan menjadi garda terdepan dalam merespons ancaman luar.
Ia juga mengajak seluruh elemen bangsa, termasuk para atlet dan tokoh publik, untuk merapatkan barisan. Pezeshkian menekankan pentingnya persatuan nasional dan identitas bangsa sebagai senjata utama melawan tekanan asing.







