Peran Pakistan dalam Diplomasi AS-Iran
Menteri Dalam Negeri Pakistan, Mohsin Naqvi, kembali bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, untuk membahas proposal penghentian perang antara Amerika Serikat dan Iran. Pertemuan ini dilakukan dalam rangka memperkuat komunikasi antara kedua negara melalui mediasi Pakistan. Fokus utama pembahasan adalah mengenai kontak tidak langsung antara Teheran dan Washington.
Sebelumnya, laporan menyebutkan bahwa pesan-pesan antara Iran dan AS melalui mediasi Pakistan masih terus berlangsung, meskipun beberapa perbedaan belum terselesaikan. Naqvi, yang berkunjung ke Teheran untuk kedua kalinya dalam seminggu, menyampaikan pesan dari pihak AS kepada pejabat Iran. Sumber Pakistan menambahkan bahwa jika kesepakatan kerangka dicapai, Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, akan melakukan kunjungan.
Berdasarkan proposal 14 poin Iran, Teheran ingin negosiasi terpisah tentang program nuklirnya, termasuk isu uranium yang diperkaya, dalam waktu 30 hari setelah gencatan senjata permanen. Namun, Washington ingin isu nuklir dibahas dan diselesaikan sebelum kesepakatan gencatan senjata diberlakukan.
Ketegangan di kawasan meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Februari lalu. Teheran membalas dengan menyerang Israel dan sekutu AS di kawasan Teluk serta menutup Selat Hormuz. Gencatan senjata AS-Iran berlaku sejak 8 April melalui mediasi Pakistan, namun perundingan di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan permanen.
Presiden AS Donald Trump memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu dan tetap memberlakukan blokade kapal terkait Iran. Seorang sumber militer Iran mengatakan bahwa Iran memiliki senjata canggih yang belum digunakan di medan perang dalam konfliknya dengan AS dan Israel. Pada 18 Mei, CNN melaporkan bahwa Pentagon telah menyiapkan daftar target serangan di Iran jika Presiden AS Donald Trump memberi perintah untuk melanjutkan serangan terhadap negara tersebut.
“Kami telah memproduksi senjata canggih di dalam negeri yang belum digunakan di medan perang dan belum diuji coba,” kata sumber Iran tersebut, mengomentari kesiapan Iran untuk kemungkinan serangan AS berikutnya. Menurut sumber tersebut, Teheran tidak kekurangan aset yang siap digunakan untuk menangkis serangan. “Dalam hal peralatan dan kemampuan pertahanan, kami tidak kekurangan apa pun yang akan menghalangi kami untuk membela negara kami. Kali ini, kami tidak berniat untuk menahan diri,” tambahnya.
Peringatan dari Korps Garda Revolusi Iran
Pada Rabu (20/5/2026), Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeluarkan peringatan bahwa agresi baru AS dan Israel terhadap Iran akan memicu sebuah perang yang luas melebihi kawasan Timur Tengah. IRGC menegaskan bahwa Iran akan melancarkan serangan balasan yang tak diharapkan musuh.
Dalam pernyataan dengan kalimat yang keras, IRGC menyebut “musuh Amerika-Zionis”, dengan mengatakan bahwa Washington dan Israel telah gagal belajar dari kekalahan strategis berulang dan lagi-lagi menebar ancaman. IRGC mengatakan, meski AS dan Israel melancarkan serangan dengan kekuatan penuh pada perang lalu, Iran belum mengerahkan kapabilitas penuh dalam membalas.
Jika agresi berulang, IRGC menegaskan, “perang di kawasan yang sebelumnya dijanjikan kali ini akan diperluas melebihi kawasan (Timur Tengah), dan pukulan telak kami akan membawa kalian ke kerusakan berkeping-keping yang tidak bisa anda bayangkan.”
Presiden AS Donald Trump pada Rabu mengatakan bahwa Amerika Serikat akan bertindak sangat cepat jika Iran gagal memberikan “jawaban yang 100 persen memuaskan” selama negosiasi yang sedang berlangsung untuk mencapai kesepakatan. “Benar-benar di ambang batas. Percayalah, jika kami tidak mendapatkan jawaban yang tepat, semuanya akan berjalan sangat cepat,” kata Trump kepada wartawan ketika ditanya tentang kemungkinan serangan terhadap Iran.
“Kami semua siap. Kami harus mendapatkan jawaban yang tepat. Itu harus berupa jawaban yang lengkap, 100 persen benar,” imbuhnya. Dia menambahkan bahwa dalam skenario terburuk, AS dapat bertindak hanya dalam beberapa hari. “Kami berurusan dengan beberapa orang yang sangat baik… Kami berurusan dengan beberapa orang yang berbakat, dengan kemampuan berpikir yang baik, dan kami cukup terkesan dengan hal itu,” kata pemimpin AS tersebut. “Mudah-mudahan orang-orang itu akan membuat kesepakatan yang akan menguntungkan semua orang,” imbuhnya.
Pada Selasa, Trump mengatakan Amerika Serikat dapat melancarkan serangan baru terhadap Iran paling cepat pada 22 Mei atau awal pekan depan. Pada Senin, presiden AS itu mengatakan bahwa ia telah menangguhkan serangan tersebut menyusul permintaan dari Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Dia menambahkan bahwa permintaan tersebut diajukan karena adanya “negosiasi serius” yang sedang berlangsung, yang menurut para pemimpin Timur Tengah dapat menghasilkan kesepakatan yang dapat diterima oleh Amerika Serikat. Namun, Trump mengatakan bahwa Washington tetap siap melancarkan serangan skala besar kapan saja jika tidak tercapai kesepakatan.






