Peristiwa Penganiayaan yang Viral di Media Sosial
Seorang lansia bernama Syafrial Pasha (54) menjadi tersangka penganiayaan setelah viral di media sosial. Insiden ini terjadi ketika sekelompok orang tiba-tiba merusak pagar rumahnya pada Rabu (19/11/2025) sekitar pukul 13.54 WIB.
Awal Peristiwa
Pada saat itu, lima orang datang ke rumah Syafrial dengan membawa linggis dan martil. Mereka mulai merusak pagar rumah yang terbuat dari kayu. Syafrial kemudian keluar dari rumah dan mengambil sebatang kayu untuk mengusir para pelaku. Ia memukulkan kayu tersebut ke arah pagar dengan maksud menakuti mereka, namun kayu tersebut patah.
Salah satu pria dari kelompok tersebut mengambil patahan kayu dan melemparkannya ke arah Syafrial. Dalam narasi yang beredar, Syafrial disebut sebagai korban penyerangan, namun justru ditetapkan sebagai tersangka oleh kepolisian.
Penjelasan Polisi
Menurut Kasi Humas Polres Pelabuhan Belawan AKP Edy Suranta, insiden tersebut terjadi di Jalan Veteran, Desa Manunggal, Kecamatan Labuhan Deli, Kabupaten Deli Serdang. Ia menyatakan bahwa kejadian itu murni kasus penganiayaan.
Edy menjelaskan bahwa peristiwa itu bermula dari konflik antarkeluarga terkait masalah lahan. Syafrial dan Idran Ismi merupakan saudara kandung yang berselisih soal lahan kosong yang sebelumnya dikelola oleh abang mereka yang telah meninggal dunia.
“Ada masalah lahan kosong yang sebelumnya dikelola oleh abang kandung mereka yang telah meninggal dunia. Kemudian terjadi perselisihan dan perebutan lahan di antara keduanya,” ujar Edy.
Menurut polisi, Syafrial melihat Idran di lokasi dan langsung mengambil kayu untuk memukulnya. Akibatnya, Idran mengalami luka di bagian kepala serta patah tulang di tangan kiri.
Bantahan Kuasa Hukum
Di sisi lain, kuasa hukum Syafrial, Saiful Amril, membantah keterangan kepolisian. Menurut Saiful, video CCTV menunjukkan bahwa Idran bersama empat orang lainnya mendatangi rumah Syafrial dengan membawa martil dan alat lainnya.
Ia menyatakan bahwa kedatangan Idran dan rombongan diikuti dengan pembongkaran pagar rumah, sehingga memancing Syafrial keluar. Syafrial kemudian mengambil sebatang kayu dan memukul pagar, bukan orang.
“Akhirnya, Syafrial mengambil sebuah kayu dipukulkan ke arah pagar dan itu yang dibilang kena kepalanya. Padahal yang dipukuli itu pagar,” ujar Saiful.
Konflik Hukum dan Dugaan Ketidakprofesionalan
Saiful juga menyampaikan bahwa usai kejadian, Idran melaporkan Syafrial ke Polsek Medan Labuhan atas dugaan penganiayaan. Sementara itu, Syafrial melaporkan Idran ke Polres Pelabuhan Belawan atas dugaan penyerangan dan perusakan rumah.
“Nah, perlu dipahami di antara empat kawan Idran ada yang bersaksi bahwa tidak melihat tangan Idran patah,” sebut Saiful.
Ia menduga adanya ketidakprofesionalan penyidik dalam penanganan perkara. “Mereka tidak ada melakukan olah TKP. Barang bukti kayu itu juga tak ada sama mereka. Terus dalam penyelidikan tak ada pihak kita dipanggil,” ujarnya.
Langkah Hukum Lanjutan
Atas kondisi tersebut, pihak kuasa hukum menyatakan akan menempuh langkah hukum. Pertama, mengajukan praperadilan ke Pengadilan Lubuk Pakam terkait penetapan tersangka Syafrial.
Kedua, melaporkan Polres Pelabuhan Belawan dan Polsek Medan Labuhan ke Propam Polda Sumatera Utara atas pernyataan yang menyebut perkara tersebut sebagai sengketa lahan.
“Karena ini bukan soal lahan. Klien kami punya surat-surat atas lahan tersebut. Perlu diketahui juga, Syafrial ini mantan dosen di UMA yang sekarang aktif menulis buku. Sedangkan Idran itu mantan polisi yang dipecat,” ungkap Saiful.







